TEMANGGUNG, PUNGGAWANEWS – Wafiq Zuhair tidak pernah membayangkan bahwa rentetan penolakan kerja akan membawanya ke sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar slip gaji bulanan.
Lulus kuliah pada 2019, Wafiq menghadapi kenyataan yang akrab di telinga banyak anak muda Indonesia: ijazah di tangan, tapi pintu kerja seperti kompak menutup rapat. Ia bukan dari keluarga berada. Tidak punya kenalan yang bisa menyelipkan namanya ke meja HRD perusahaan besar. Yang ia punya hanyalah tekad dan setumpuk formulir lamaran yang terus ia kirimkan, satu per satu.
Sekitar 50 perusahaan ia lamar. Hasilnya? Lima puluh kali pula ia harus membaca kalimat penolakan yang meski ditulis sopan, tetap terasa seperti pintu yang ditutup di hadapan muka.
Bagi sebagian orang, angka itu sudah cukup untuk menyerah. Tapi bagi Wafiq, cerita justru baru dimulai.
Di tengah kebuntuan itu, ia dan sejumlah rekannya mendirikan Yayasan Sahabat Pedalaman. Bukan organisasi yang main-main. Fokus mereka langsung mengarah ke persoalan yang selama ini jarang masuk radar publik perkotaan: akses masyarakat di wilayah terpencil Indonesia.
Salah satu program andalan yang kemudian lahir dari yayasan ini adalah Jembatan Pelosok Negeri. Sesuai namanya, program ini hadir untuk menjawab kebutuhan nyata warga di pedalaman yang selama ini terisolasi bukan karena tidak mau berkembang, tapi karena secara harfiah tidak ada jalan yang menghubungkan mereka.
Jembatan yang dibangun Sahabat Pedalaman adalah jembatan gantung. Dibuat dengan anggaran yang efisien, namun tidak mengorbankan kualitas. Konstruksinya dirancang untuk bertahan lama dan benar-benar bisa digunakan masyarakat setempat dalam jangka panjang.
Di kota, jembatan adalah hal yang begitu biasa sampai orang lebih sering mengeluh soal kemacetan di atasnya ketimbang mensyukuri keberadaannya. Tapi di pelosok, jembatan bisa menjadi perbedaan antara anak yang bisa berangkat sekolah setiap hari atau harus absen karena sungai meluap. Antara petani yang bisa membawa hasil panen ke pasar atau membiarkan panen membusuk di ladang. Antara warga yang bisa mengakses layanan kesehatan atau menahan sakit sambil menunggu air surut.
Dampaknya tidak berhenti di angka-angka laporan. Setiap jembatan yang berdiri adalah kesempatan baru bagi komunitas yang selama ini tertinggal bukan karena pilihan, melainkan karena keterbatasan akses.
Data resmi Sahabat Pedalaman mencatat, sejak 2021 hingga akhir 2024, program Jembatan Pelosok Negeri telah berhasil membangun tujuh jembatan di berbagai wilayah terpencil dengan total penerima manfaat mencapai sekitar 8.500 orang. Dalam perkembangan terkini yang dibagikan Wafiq melalui media sosialnya, angka tersebut disebut telah bertambah hingga 11 jembatan.
Ada ironi yang menarik dalam perjalanan ini. Seseorang yang dulu kesulitan mencari pintu masuk untuk dirinya sendiri, justru kini ikut membangun akses bagi ribuan orang yang kondisinya jauh lebih terbatas. Dulu ia yang menunggu pintu dibuka. Kini ia yang membantu membukakan jalan.
Kisah ini sekaligus menjadi sindiran halus bagi cara kita mendefinisikan sukses. Selama ini, keberhasilan kerap diukur dari hal-hal yang cepat terlihat: gaji dua digit sebelum usia 25, jabatan mentereng sebelum 30, kendaraan dan hunian yang layak dijadikan konten. Kalau belum memenuhi standar itu, dianggap belum berhasil. Dianggap kurang usaha. Atau sekadar belum beruntung.
Padahal tidak semua keberhasilan berbentuk ruang kantor ber-AC. Ada juga keberhasilan yang wujudnya rangka besi dan papan kayu yang membentang di atas sungai deras. Ada keberhasilan yang ukurannya bukan follower atau views, tapi berapa banyak anak yang akhirnya bisa menyeberang dengan selamat setiap pagi.
Zaman memang kadang punya logika terbalik. Konten pamer jam tangan mahal atau liburan luar negeri bisa ramai dalam hitungan jam. Tapi ketika anak muda memilih membangun jembatan di pedalaman, barulah banyak orang tersadar bahwa ada bentuk pamer yang jauh lebih bermakna: bukan pamer barang, tapi pamer manfaat. Pamer barang paling jauh hanya melahirkan rasa iri. Pamer manfaat bisa menular menjadi inspirasi.
Penolakan yang dialami Wafiq juga mengajarkan sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kuliah mana pun. Bahwa ditolak bukan berarti tidak layak. Bahwa pintu yang tertutup tidak selalu berarti jalan buntu. Kadang, justru dari sanalah seseorang diarahkan ke jalur yang sama sekali berbeda dan bisa jadi jauh lebih bermakna.
Tentu tidak ada yang romantis dari proses itu sendiri. Tidak ada orang yang ditolak lalu langsung merasa tercerahkan. Yang pertama datang biasanya kecewa, kemudian overthinking, lalu mempertanyakan nasib. Tapi waktu berjalan, dan sering kali baru di kemudian hari kita menyadari bahwa tidak diterima di satu tempat justru membuka ruang untuk membangun sesuatu yang lebih besar.
Kisah ini tidak bermaksud mengatakan bahwa semua orang yang gagal melamar kerja harus segera mendirikan yayasan. Hidup tetap perlu dijalani secara realistis. Tagihan tidak bisa dibayar dengan semangat, dan kebutuhan sehari-hari tidak bisa diatasi hanya dengan motivasi.
Tapi ada satu pesan besar yang sulit diabaikan: kondisi awal bukan vonis akhir. Tidak punya privilege bukan berarti tidak punya peluang. Tidak punya nama besar bukan berarti tidak bisa membangun sesuatu yang berarti. Tidak punya modal banyak bukan berarti harus diam menunggu keajaiban. Jalannya memang lebih terjal. Lebih lambat. Lebih banyak kecewa yang harus ditelan. Tapi hidup tidak selalu dimenangkan oleh yang garis startnya paling mulus.
Sering kali, justru mereka yang terus bergerak di jalan yang sulit itulah yang akhirnya mencapai tempat yang paling berarti. Bukan karena perjalanannya lebih mudah. Tapi karena mereka tidak berhenti.
Wafiq Zuhair adalah salah satunya.
FAQ
Siapa Wafiq Zuhair dan apa yang ia lakukan setelah lulus kuliah?
Wafiq Zuhair adalah seorang pemuda yang lulus kuliah pada 2019 dan sempat mengalami penolakan dari sekitar 50 perusahaan tempat ia melamar kerja. Alih-alih menyerah, ia justru mendirikan Yayasan Sahabat Pedalaman bersama rekan-rekannya untuk membantu masyarakat di wilayah terpencil Indonesia.
Apa itu program Jembatan Pelosok Negeri dari Sahabat Pedalaman?
Jembatan Pelosok Negeri adalah program pembangunan jembatan gantung di wilayah pedalaman Indonesia yang dilaksanakan oleh Yayasan Sahabat Pedalaman. Sejak 2021 hingga 2024, program ini telah membangun 11 jembatan dan menjangkau sekitar 8.500 penerima manfaat.
Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Wafiq Zuhair?
Kisah Wafiq mengajarkan bahwa penolakan bukan akhir dari segalanya, dan keberhasilan tidak selalu berbentuk karier korporat. Manfaat bagi orang lain bisa dimulai kapan saja, bahkan dari kondisi yang belum mapan sekalipun.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.