JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Masih ada sekitar 23 persen sekolah di Indonesia yang belum tersentuh internet. Pemerintah kini berpacu dengan waktu untuk menutup celah itu sebelum kesenjangan digital antara kota dan pelosok semakin dalam.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengumumkan target ambisius dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026. Sebanyak 16.557 satuan pendidikan dijadwalkan mendapatkan akses internet pada tahun ini sebagai bagian dari Program Digitalisasi Pembelajaran nasional.

Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan capaian 2025. Tahun lalu, pemerintah berhasil menghubungkan 8.265 sekolah ke jaringan internet. Lonjakan target ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan.

“Secara nasional, 77 persen satuan pendidikan di Indonesia saat ini telah memiliki akses internet, sementara 23 persen lainnya masih belum terjangkau dan menjadi fokus perhatian ke depan,” jelas Qodari di hadapan awak media.

Fokus utama perluasan jaringan diarahkan ke wilayah yang selama ini paling tertinggal, yakni daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar atau yang dikenal sebagai kawasan 3T. Di wilayah-wilayah inilah ketimpangan akses pendidikan terasa paling nyata, di mana siswa harus belajar tanpa koneksi yang memadai sementara rekan-rekan mereka di kota sudah lama menikmati kelas digital.

Qodari menegaskan bahwa setiap satuan pendidikan, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, modern, dan berbasis teknologi. Pemerintah tidak lagi bisa menerima kondisi di mana kode pos menentukan mutu pendidikan yang diterima seorang anak.

Program ini bukan sekadar memasang kabel atau memancarkan sinyal. Di balik perluasan konektivitas, pemerintah membangun sebuah ekosistem digital pendidikan yang lebih menyeluruh, yang disebut Rumah Pendidikan.

Platform ini dirancang sebagai pusat layanan terpadu yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan digital dalam dunia pendidikan. Pengembangannya mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan digitalisasi pembelajaran dan penguatan layanan pendidikan berkualitas.

Salah satu komponen utama dalam Rumah Pendidikan adalah Ruang Murid. Layanan ini menyediakan sumber belajar digital, instrumen asesmen, hingga materi pengembangan karakter bagi para peserta didik. Hingga kini, Ruang Murid telah mencatat 1,3 juta pengguna aktif setiap bulannya, sebuah angka yang menunjukkan antusiasme nyata dari kalangan pelajar.

Tidak hanya siswa yang diakomodasi. Para guru dan tenaga kependidikan juga mendapat porsi yang setara melalui fitur Ruang Guru. Platform ini menyediakan pelatihan mandiri, pengelolaan kinerja, hingga program pengembangan profesional berkelanjutan. Ruang Guru telah mencatatkan lebih dari tiga juta kunjungan, dan sejak Juni 2026 mulai diintegrasikan secara bertahap ke dalam ekosistem Rumah Pendidikan.

Bergabungnya Ruang GTK ke dalam Rumah Pendidikan pada Juni 2026 menjadi tonggak penting dalam penyatuan layanan digital pendidikan nasional. Langkah ini menjadikan platform tersebut semakin komprehensif dan efisien bagi seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, para pengelola sekolah mendapat dukungan tersendiri melalui Ruang Sekolah. Layanan ini berbasis data dan membantu kepala sekolah serta dinas pendidikan dalam mengambil keputusan berbasis fakta. Instrumen evaluasi yang digunakan adalah Rapor Pendidikan, sebuah sistem penilaian mutu yang memungkinkan sekolah mengidentifikasi kelemahan dan merancang perbaikan secara terstruktur.

Data menunjukkan bahwa lebih dari 280 ribu sekolah di seluruh Indonesia telah memanfaatkan Ruang Sekolah atau Rapor Pendidikan. Ini berarti mayoritas sekolah di tanah air sudah mulai bergerak menuju pengelolaan berbasis digital, meski kualitas aksesnya masih bervariasi.

Qodari menyatakan bahwa integrasi berbagai layanan digital ini dirancang untuk memastikan seluruh pemangku kepentingan pendidikan memperoleh layanan yang lebih efektif dan mudah diakses. Tidak ada lagi silo antara urusan siswa, guru, dan manajemen sekolah; semuanya terhubung dalam satu ekosistem.

Yang menjadi tantangan ke depan tentu bukan hanya soal infrastruktur fisik. Koneksi internet tanpa pendampingan dan literasi digital yang memadai hanya akan menjadi investasi yang mubazir. Pemerintah perlu memastikan bahwa guru di daerah 3T tidak hanya mendapat sinyal, tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkannya secara optimal di dalam kelas.

Transformasi digital pendidikan Indonesia sedang memasuki fase yang kritis. Target 16.557 sekolah baru terkoneksi internet di 2026 adalah langkah konkret, tetapi garis finis yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak di pedalaman Papua atau Nusa Tenggara bisa belajar dengan kualitas yang setara dengan temannya di Jakarta.

FAQ

Berapa target sekolah yang akan mendapat akses internet pada 2026?
Pemerintah menargetkan sebanyak 16.557 satuan pendidikan mendapatkan akses internet pada 2026, meningkat drastis dari 8.265 sekolah yang terhubung pada 2025.

Apa itu Ekosistem Rumah Pendidikan dan apa saja layanannya?
Rumah Pendidikan adalah platform digital terpadu Kementerian Pendidikan yang mengintegrasikan Ruang Murid untuk siswa, Ruang Guru untuk pengembangan kompetensi pendidik, dan Ruang Sekolah untuk pengelolaan sekolah berbasis data melalui Rapor Pendidikan.

Berapa persen sekolah di Indonesia yang sudah memiliki akses internet saat ini?
Sebanyak 77 persen satuan pendidikan di Indonesia telah memiliki akses internet, sementara 23 persen sisanya, terutama di wilayah 3T, masih menjadi prioritas perluasan jaringan.



Follow Widget