Summarize the post with AI

Di tengah kebuntuan itu, Trump akhirnya memilih opsi yang lebih lunak: memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan tanpa menetapkan tanggal kadaluarsa yang pasti. Langkah ini dimaksudkan memberi ruang bagi Teheran untuk merapatkan barisan internal di bawah mandat Khamenei. Meski demikian, sejumlah penasihat presiden memperingatkan bahwa kelonggaran tersebut berpotensi dimanfaatkan Iran untuk mengulur waktu sambil memulihkan kekuatan militer mereka.

Melalui platform Truth Social, Trump menyebut pemerintahan Iran saat ini dalam kondisi yang sangat retak. Ia mengisyaratkan masih mendambakan penyelesaian lewat diplomasi, enggan membuka kembali babak konflik yang ia klaim telah dimenangkan Amerika.

Namun jalan menuju meja perundingan tetap penuh hambatan. Iran bersikukuh menuntut pencabutan blokade di Selat Hormuz sebagai syarat mutlak sebelum pembicaraan berlanjut. Trump menolak mentah-mentah. “Kami tidak akan membuka selat itu sampai kami memiliki kesepakatan final,” tegasnya dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa pagi.

Teheran pun merespons perpanjangan gencatan senjata itu dengan nada yang jauh dari bersahabat. Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Ghalibaf, menyatakan bahwa perpanjangan tersebut tidak punya makna selama blokade ekonomi masih berjalan, dan bahwa pengepungan yang terus berlangsung sama saja dengan serangan yang menuntut balasan militer.



Follow Widget