Indonesia punya sejarah panjang dengan lemahnya oposisi. Pada era Orde Baru, oposisi nyaris tidak ada. Bahkan di era reformasi, kecenderungan partai-partai untuk masuk ke dalam koalisi pemerintah — demi jabatan dan anggaran — membuat fungsi pengawasan parlemen kerap berjalan setengah hati.

Dalam konteks itulah pilihan PDIP untuk tetap di luar pemerintahan mendapat makna tersendiri. Terlepas dari kalkulasi politik di baliknya, posisi itu secara objektif mengisi kekosongan yang penting: suara yang tidak selalu satu nada dengan penguasa.

Prabowo tampaknya memahami hal itu. Pengakuannya di forum paripurna bukan hanya gestur diplomatis kepada Megawati dan kader PDIP, tetapi juga sinyal bahwa ia tidak alergi terhadap kritik — setidaknya secara retorika.

Yang menarik, momen ini terjadi tepat sehari setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Tanggal yang secara historis selalu dirayakan sebagai momentum kesadaran kolektif bangsa untuk bangkit bersama, melampaui perbedaan.