Yang menarik, Bulog tidak hanya bergerak di sisi hulu — menyerap dari petani — tetapi juga aktif di sisi hilir. Jagung yang diserap itu akan disalurkan kembali melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP Jagung. Program ini menyasar 5.541 peternak dengan populasi unggas sekitar 53 juta ekor, dengan total kuota penyaluran mencapai 242.000 ton hingga 31 Desember 2026.

Sasaran utamanya adalah peternak ayam ras petelur skala kecil dan menengah, kelompok yang paling rentan ketika harga jagung pakan melonjak di pasaran. Selama ini, mereka kerap terhimpit di antara dua tekanan: harga pakan yang naik dan harga telur yang tidak bisa dinaikkan sembarangan karena tekanan daya beli konsumen.

Rizal menyebut program SPHP Jagung sebagai instrumen penting untuk menjaga keterjangkauan harga jagung pakan. Bulog, katanya, tidak hanya hadir untuk petani, tetapi juga untuk keberlanjutan usaha peternakan sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai pangan nasional.

“Bulog selalu menjaga stabilisasi harga dari dua sisi, yaitu sisi produsen di tingkat petani jagung dan sisi konsumen di tingkat peternak. Dengan penyerapan dan penyaluran yang terukur, stabilitas pasokan dan harga jagung dapat terus terjaga,” ujar Rizal.