JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Lebih dari tiga ribu kali bumi berguncang di kawasan Nusa Tenggara Timur sejak gempa utama mengguncang wilayah itu. Kini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan ancaman belum sepenuhnya reda.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyampaikan pernyataan resmi dalam konferensi pers pada Rabu, 19 Agustus 2026. Ia memastikan gempa susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur masih berpotensi terjadi dalam rentang 21 hingga 30 hari ke depan.

“Dari hasil perhitungan kami sementara dengan data yang ada sampai saat ini, kira-kira dalam waktu 21 sampai 30 hari ke depan akan segera meluruh,” ujar Nelly di hadapan awak media. Pernyataan itu menjadi sinyal penting bagi jutaan warga yang masih menanti kepastian keamanan di wilayah terdampak.

Hingga Rabu siang pukul 14.00 WIB, BMKG telah merekam total 3.002 gempa susulan sejak kejadian gempa utama. Magnitudo guncangan berkisar antara 1,1 hingga 6,2, dengan 25 di antaranya tercatat bermagnitudo 5 atau lebih—kekuatan yang cukup untuk dirasakan secara luas dan berpotensi menambah kerusakan.

Angka ribuan gempa susulan itu memang terdengar mengkhawatirkan. Namun Nelly menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari proses alamiah yang lazim terjadi pascagempa besar. Bumi, dalam istilah tektonik, sedang menyesuaikan diri.

“Jumlah gempa susulan yang banyak itu karena bagian dari penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi, sehingga mendapatkan keseimbangan baru setelah ada gempa utama yang besar,” jelasnya. Proses itu, meski tidak menyenangkan bagi warga yang merasakannya, sesungguhnya merupakan cara alam melepaskan tekanan yang terakumulasi.

Sebaran gempa susulan tidak merata di seluruh NTT. BMKG mencatat konsentrasi aktivitas tektonik terpusat di wilayah Flores bagian tengah hingga barat. Ini erat kaitannya dengan karakteristik zona tektonik di kawasan tersebut yang memang dikenal aktif secara geologis.

Flores memang bukan wilayah asing dalam catatan kegempaan nasional. Pulau ini berada di jalur subduksi lempeng yang menjadikannya rawan gempa hampir sepanjang tahun. Gempa utama yang terjadi sebelumnya telah memicu rangkaian panjang aktivitas susulan yang kini terus dipantau secara ketat.

BMKG memproyeksikan intensitas gempa susulan akan menurun secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang. Pada akhir September 2026, aktivitas seismik di wilayah itu diperkirakan sudah berada pada level yang relatif rendah. Namun hingga saat itu tiba, kewaspadaan tetap menjadi kunci.

Di lapangan, tim BMKG bersama instansi terkait terus melakukan evaluasi terhadap kondisi bangunan dan fasilitas publik yang terdampak. Sejumlah kerusakan telah ditemukan, mulai dari retakan dinding hingga kerusakan pada infrastruktur yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Evaluasi lanjutan diperlukan untuk membedakan antara kerusakan yang bersifat non-struktural—seperti retak ringan pada plester—dengan kerusakan struktural yang dapat mengancam keamanan penghuni. Bangunan yang mengalami kerusakan struktural dinilai tidak layak ditempati hingga ada hasil pemeriksaan resmi dari tim teknis.

Nelly secara khusus mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang namun tidak lengah. Kepanikan hanya akan memperburuk situasi, sementara kewaspadaan yang terukur justru bisa menyelamatkan jiwa.

Warga diminta untuk tidak kembali ke bangunan yang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh otoritas berwenang. Langkah sederhana namun krusial ini sering kali diabaikan di tengah dorongan untuk segera kembali ke rutinitas normal.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar memperbarui informasi hanya dari sumber resmi. Di era media sosial, informasi keliru tentang gempa kerap beredar lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Hoaks seputar prediksi gempa besar, misalnya, bisa memicu kepanikan massal yang tidak perlu.

Pemerintah daerah di NTT diminta untuk terus berkoordinasi dengan BMKG dalam memantau perkembangan situasi. Langkah antisipasi, mulai dari penyiapan jalur evakuasi hingga kesiapan pos pengungsian, tetap perlu dijaga hingga aktivitas gempa benar-benar mereda.

Dari perspektif ilmu kebumian, rangkaian gempa susulan ini juga menjadi data berharga bagi para peneliti. Setiap kejadian merekam informasi tentang struktur bawah tanah dan dinamika lempeng yang kelak berguna untuk memperkuat sistem peringatan dini Indonesia.

Sementara para ilmuwan bekerja dengan data dan angka, warga Flores dan sekitarnya menjalani hari-hari yang masih diwarnai ketidakpastian. Setiap guncangan kecil pun terasa mendebarkan bagi mereka yang sudah merasakan dahsyatnya gempa utama.

BMKG berkomitmen untuk terus memberikan informasi terkini kepada publik. Pembaruan data gempa susulan akan disampaikan secara berkala agar masyarakat mendapat gambaran yang akurat tentang kondisi seismik di wilayah mereka.

Dalam 30 hari ke depan, kesabaran dan kehati-hatian adalah dua hal yang paling dibutuhkan. Bumi NTT sedang mencari keseimbangannya—dan tugas manusia adalah menyesuaikan diri dengan bijak hingga proses itu selesai.

FAQ

Berapa lama gempa susulan di NTT diprediksi akan berlangsung?

BMKG memperkirakan gempa susulan akan terus terjadi selama 21 hingga 30 hari ke depan, namun dengan intensitas yang makin menurun. Pada akhir September 2026, aktivitas seismik diperkirakan sudah berada di level yang relatif rendah.

Mengapa jumlah gempa susulan di NTT sangat banyak hingga ribuan kali?

Menurut BMKG, banyaknya gempa susulan merupakan proses alamiah berupa penyesuaian kerak bumi dalam melepaskan energi pascagempa utama yang besar. Ini adalah cara bumi mencapai keseimbangan baru di zona tektonik yang aktif.

Apa yang harus dilakukan warga saat masih terjadi gempa susulan?

BMKG mengimbau warga untuk tetap tenang, tidak kembali ke bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman, dan hanya mengikuti informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.



Follow Widget