SINJAI, PUNGGAWANEWS – Dentuman gendang mengawali sebuah perayaan yang lebih dari sekadar tontonan. Festival Seni dan Budaya yang digelar Dewan Kesenian Sinjai (DKS) resmi dibuka pada Sabtu, 1 Agustus 2026, di Situs Sejarah Benteng Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara — sebuah tempat bersejarah yang kini kembali berdenyut dengan semangat kebudayaan.
Bupati Sinjai Dra. Hj. Ratnawati Arif membuka langsung festival ini, didampingi Wakil Bupati Andi Mahyanto Mazda dan Ketua DKS terpilih Andi Jusman. Kehadiran para pemimpin daerah di garis depan acara ini bukan tanpa makna — ini adalah pernyataan tegas bahwa kebudayaan bukan urusan pinggiran, melainkan jantung dari pembangunan Sinjai.
Tabuhan gendang menjadi penanda resmi dimulainya festival, sebuah simbol yang sarat makna. Suara itu bukan sekadar pembuka acara, melainkan panggilan bagi seluruh masyarakat Sinjai untuk kembali memeluk warisan leluhur yang telah lama hidup di bumi Bumi Panrita Kitta.
Festival ini hadir dengan deretan kegiatan yang dirancang untuk menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Atraksi gendrang memukau para penonton, sementara pameran pusaka menampilkan koleksi benda-benda bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sinjai. Pameran lukisan memberi ruang bagi seniman visual untuk berbicara melalui kanvas dan warna.
Tak hanya itu, pertunjukan teater turut memperkaya panggung budaya dengan narasi-narasi yang menggali kearifan lokal. Salah satu agenda yang paling dinantikan anak-anak adalah lomba mewarnai bertema budaya yang diikuti siswa tingkat SD dan SMP — sebuah langkah strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini.
Dalam sambutannya, Bupati Ratnawati Arif menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar agenda seremonial yang datang dan pergi. Festival ini, menurutnya, adalah momentum nyata untuk memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendorong kreativitas masyarakat, terutama generasi muda yang kerap lebih akrab dengan budaya luar.
Ia secara khusus menyebut sejumlah kekayaan budaya Sinjai yang harus terus dijaga dan diwariskan. Tari Pasere, dengan gerakannya yang anggun dan penuh filosofi, disebut sebagai salah satu mahkota kesenian Sinjai. Tradisi Ma’rimpa Salo — ritual memanen ikan di sungai yang telah berlangsung turun-temurun — juga diangkat sebagai bukti betapa kayanya warisan leluhur yang dimiliki daerah ini.
“Sinjai memiliki warisan budaya yang luar biasa. Mari kita rawat dan wariskan kepada generasi penerus,” kata Ratnawati di hadapan para seniman, budayawan, dan tamu undangan yang memadati kawasan Benteng Balangnipa.
Pemilihan Benteng Balangnipa sebagai lokasi festival bukan keputusan sembarangan. Situs bersejarah ini adalah salah satu ikon Kabupaten Sinjai yang menyimpan jejak sejarah panjang — mulai dari era kerajaan hingga masa kolonial. Menggelar festival kebudayaan di tempat ini memberikan dimensi simbolis yang kuat: masa lalu dan masa kini berjabat tangan untuk menyongsong masa depan.
Suasana di sekitar benteng pun berubah menjadi lautan ekspresi budaya. Para pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana kesenian tradisional berdampingan dengan karya-karya kontemporer, menciptakan dialog antargenerasi yang organik dan hidup.
Bupati Ratnawati juga menitipkan harapan besar kepada festival ini. Ia ingin agar gelaran dua hari ini menjadi titik tolak kebangkitan seni dan budaya di Kabupaten Sinjai — sebuah titik nol baru dari mana semangat berkesenian kembali dan meluas ke seluruh penjuru daerah.
“Festival ini saya harapkan menjadi titik tolak kebangkitan seni dan budaya Sinjai. Terus lahirkan karya baru,” pesannya, penuh harap.
Pesan itu tampaknya jatuh di telinga yang tepat. Para seniman dan pelaku budaya yang hadir terlihat antusias, seolah mendapat suntikan energi baru untuk terus berkarya. Bagi mereka, panggung seperti ini bukan hanya soal tampil — ini soal eksistensi dan pengakuan bahwa karya mereka punya tempat di jantung pembangunan daerah.
Festival ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, dari 1 hingga 2 Agustus 2026. Turut hadir dalam pembukaan ini sejumlah unsur pimpinan daerah dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda), beberapa kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta Sekretaris Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, Djamal A. Kalan. Kehadiran tokoh dari tingkat provinsi ini memberi sinyal bahwa gaung Festival Seni dan Budaya Sinjai telah melampaui batas kabupaten.
Kekayaan budaya, dalam pandangan Bupati Ratnawati, bukan sekadar warisan statis yang harus disimpan dalam lemari kaca. Ia adalah aset hidup yang harus terus dikembangkan, diperkenalkan kepada masyarakat luas, dan dijadikan fondasi pembangunan karakter serta identitas daerah yang kuat di tengah arus globalisasi yang terus mengalir deras.
DKS sebagai penyelenggara tampaknya memahami beban dan tanggung jawab itu. Festival ini dirancang bukan hanya untuk memuaskan dahaga estetika sesaat, tetapi untuk meninggalkan jejak yang lebih dalam — kesadaran kolektif bahwa Sinjai adalah daerah yang tahu dari mana ia berasal, dan tahu ke mana ia akan melangkah.
FAQ
Apa saja kegiatan yang ada dalam Festival Seni dan Budaya Sinjai 2026?
Festival ini menampilkan berbagai rangkaian kegiatan, di antaranya atraksi gendrang, pameran pusaka, pameran lukisan, pertunjukan teater, serta lomba mewarnai bertema budaya untuk siswa SD dan SMP.
Mengapa Benteng Balangnipa dipilih sebagai lokasi festival?
Benteng Balangnipa merupakan situs sejarah penting di Kabupaten Sinjai yang menyimpan nilai sejarah dan budaya tinggi. Pemilihan lokasi ini dimaksudkan untuk memperkuat nuansa historis festival sekaligus memperkenalkan situs tersebut kepada masyarakat luas.
Apa harapan Bupati Sinjai dari penyelenggaraan festival ini?
Bupati Ratnawati Arif berharap festival ini menjadi titik tolak kebangkitan seni dan budaya di Sinjai, mendorong lahirnya karya-karya baru, serta memperkuat identitas budaya daerah di tengah generasi muda.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.