Pocillopora damicornis memiliki plastisitas morfologi yang tinggi, sehingga bentuknya berubah mengikuti kondisi lingkungan. Pada reefslope, morfologi karang lebih dipengaruhi oleh salinitas dan kekuatan arus/gelombang. Di reefflat, faktor yang lebih dominan adalah bahan organik, kekeruhan, TSS, intensitas cahaya. Sementara pada kelompok lagoon, pengaruh parameter lingkungan tidak tampak sekuat dua zona lainnya. Dengan kata lain, karang di Pulau Sembilan tidak hanya tumbuh di lingkungan yang berbeda, tetapi benar-benar menyesuaikan bentuk tubuhnya terhadap tekanan mikrohabitat yang berbeda.

Makna ilmiah dari temuan ini, bahwa karang ternyata bukan hanya organisme yang “menderita” akibat perubahan lingkungan. Ia juga menyimpan jejak respons terhadap perubahan tersebut. Variasi bentuk percabangan, lebar cabang, sudut percabangan, dan jarak antarkoralit dapat dibaca sebagai ekspresi adaptasi terhadap arus, gelombang, kekeruhan, cahaya, suhu, salinitas dan sedimen.

Karena itu, karang dapat diperlakukan sebagai indikator dini perubahan lingkungan pesisir. Bila morfologi koloni mulai bergeser, itu bisa menjadi tanda bahwa ada perubahan pada kondisi oseanografi, kualitas air, atau tekanan habitat. Bagi wilayah pulau kecil yang rentan, kemampuan membaca sinyal dini seperti ini sangat berharga.

Hasil riset kami juga menunjukkan persoalan lain yang sangat penting bagi konservasi, yakni keterbatasan identifikasi berbasis morfologi semata. Hasil analisis jarak genetik dan pohon filogenetik menunjukkan bahwa spesies yang paling dekat dengan Pocillopora damicornis adalah Pocillopora verrucosa, sementara secara morfologis struktur percabangan yang paling mirip adalah Pocillopora acuta dan Pocillopora brevicornis.

Kondisi ini kerap menyebabkan kesalahan identifikasi. Bagi sebagian orang, detail semacam ini mungkin terdengar teknis. Tetapi bagi pengelolaan, implikasinya nyata. Salah mengenali spesies berarti salah membaca distribusi, salah menilai respons lingkungan, dan berpotensi salah menyusun strategi konservasi maupun restorasi. Karena itu, pendekatan molekuler seperti DNA barcoding menjadi semakin relevan untuk pulau-pulau kecil yang sedang menghadapi tekanan besar.