Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, TEHERAN– Komando operasional pusat militer Iran, Khatam al-Anbiya, pada Rabu (11/3) mengeluarkan peringatan keras terkait pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz. Teheran menegaskan bahwa kapal-kapal komersial milik Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara pendukung keduanya yang melintas di perairan tersebut akan dianggap sebagai sasaran yang sah untuk diserang.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi pemerintah, juru bicara militer Iran menyampaikan bahwa keputusan ini merupakan respons terhadap agresi yang dilakukan Washington dan Tel Aviv. “Berdasarkan hukum internasional, pada masa perang, Republik Islam Iran memiliki hak untuk mengontrol jalur laut strategis di wilayahnya,” ungkap pernyataan tersebut.
Pihak militer Iran juga menegaskan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun milik negara-negara tersebut melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini. Langkah ini disebut sebagai konsekuensi langsung dari kondisi yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Latar Belakang Eskalasi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat drastis menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah warga sipil serta pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Tragedi tersebut memicu gelombang respons balasan dari Teheran.
Data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat setidaknya sembilan hingga sepuluh kapal tanker diserang di sekitar Selat Hormuz dalam periode 1-10 Maret, dengan empat insiden menewaskan total tujuh orang. Iran melakukan serangan-serangan terhadap berbagai target militer Amerika Serikat di Timur Tengah serta aset-aset Israel sebagai bentuk pembalasan.
Dampak Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut telah menurun hingga 90 persen dalam waktu seminggu, menurut perusahaan analisis Kpler.
Perusahaan pelayaran global seperti Maersk, Hapag-Lloyd, CMA-CGM, dan MSC telah mengeluarkan peringatan layanan yang menyatakan penangguhan operasi di area tersebut. Situasi ini memicu lonjakan tajam harga minyak mentah di pasar internasional dan menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi global.
Sementara itu, Iran menawarkan alternatif bagi negara-negara yang ingin mendapatkan akses ke Selat Hormuz, yakni dengan mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka. Tawaran kontroversial ini menambah tekanan diplomatik terhadap berbagai negara di tengah krisis yang berkembang.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia. Komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi dengan prihatin, mengingat dampak ekonomi global yang dapat ditimbulkan dari penutupan jalur pelayaran strategis tersebut.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.