JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Puluhan ribu personel gabungan bergerak di garis depan pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang melahap jutaan hektare wilayah Sumatera dan Kalimantan. Di tengah kepungan kabut asap yang sudah melintas batas negara, pemerintah Indonesia menegaskan penanganan bencana ini masih dalam kendali penuh nasional, tanpa harus bergantung pada uluran tangan negara tetangga.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono menyampaikan hal itu dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Pernyataan tersebut muncul merespons tawaran bantuan dari Malaysia dan Singapura yang terdampak kabut asap lintas batas akibat karhutla di wilayah Indonesia.
Sugiono menegaskan bahwa tawaran dari kedua negara tetangga itu tidak serta-merta ditolak, tetapi akan dikaji terlebih dahulu berdasarkan kebutuhan riil di lapangan. Pemerintah Indonesia ingin memastikan bahwa setiap bantuan yang masuk benar-benar relevan secara teknis, bukan sekadar respons diplomatik.
Menurutnya, hingga saat ini seluruh kebutuhan penanganan karhutla masih mampu dipenuhi oleh sumber daya dalam negeri. Kapasitas pemadaman yang dimiliki Indonesia dinilai mencukupi untuk menghadapi skala bencana yang sedang berlangsung, meski diakui kondisi di lapangan terus berkembang dinamis.
Pemerintah telah mengerahkan kekuatan besar untuk menjinakkan api yang merambat liar di lahan gambut dan hutan tropis tersebut. Sebanyak 71 ribu personel gabungan diterjunkan ke berbagai titik api yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan, wilayah yang menjadi episentrum karhutla hampir setiap tahun memasuki musim kemarau panjang.
Tidak hanya mengandalkan tenaga darat, pemerintah juga mengoperasikan 35 helikopter dan pesawat milik TNI untuk menjalankan misi water bombing atau pengeboman air dari udara. Operasi modifikasi cuaca turut dijalankan dengan menyemai awan menggunakan dry ice dan NaCl, sebuah teknik yang selama ini menjadi andalan ketika hujan buatan dibutuhkan untuk mempercepat pemadaman.
Skala pengerahan yang masif ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menangani bencana yang dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Asap tebal hasil pembakaran lahan telah merambat melampaui batas territorial Indonesia, menutupi langit Malaysia dan Singapura, memperburuk kualitas udara di kedua negara itu hingga memancing respons keras dari kalangan parlemen dan masyarakat setempat.
Kritik dari anggota parlemen Malaysia yang menilai Indonesia tidak serius menangani karhutla mendapat respons langsung dari Sugiono. Ia tidak defensif menghadapi tekanan tersebut, melainkan menyampaikan pemahaman bahwa kekhawatiran negara-negara tetangga adalah hal yang wajar mengingat dampak nyata yang mereka rasakan.
Sugiono menekankan bahwa rakyat Indonesia sendirilah yang pertama dan paling langsung merasakan dampak karhutla. Warga yang tinggal di sekitar titik api dan daerah terdampak asap harus menanggung risiko kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan siapapun. Justru fakta inilah yang membuat pemerintah memiliki kepentingan paling besar untuk segera memadamkan api secepatnya.
Pandangan tersebut sekaligus menjawab tudingan bahwa Indonesia menutup mata terhadap dampak asap yang mencemari udara negara-negara tetangga. Pemerintah Indonesia berargumen bahwa upaya masif yang sedang dijalankan bukan karena tekanan internasional, tetapi karena keharusan melindungi warga negara sendiri yang menjadi korban pertama bencana ini.
Di sisi lain, jalur komunikasi antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura tetap terbuka lebar. Sugiono memastikan koordinasi penanganan karhutla terus berjalan melalui berbagai jalur, mulai dari hubungan diplomatik antar-kementerian luar negeri, komunikasi langsung antarkepala negara, hingga koordinasi teknis antar-lembaga penanggulangan bencana di masing-masing negara.
Pola komunikasi yang berlapis ini menunjukkan bahwa isu karhutla tidak lagi semata-mata menjadi urusan domestik Indonesia. Ia telah berevolusi menjadi persoalan kawasan yang membutuhkan respons bersama, kendati keputusan teknis di lapangan tetap menjadi kewenangan pemerintah Indonesia sebagai negara yang mengalami bencana.
Persoalan kabut asap lintas batas memang bukan hal baru dalam hubungan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. Sejak dekade lalu, isu ini kerap mengganggu hubungan bilateral ketiga negara, terutama ketika musim kemarau berkepanjangan memperparah kebakaran di lahan gambut yang sekali terbakar bisa menyala berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana respons pemerintah seringkali dianggap lambat, pengerahan 71 ribu personel dan puluhan armada udara dalam waktu singkat menandai pendekatan yang lebih agresif. Apakah pendekatan ini cukup efektif untuk memadamkan api sebelum musim hujan tiba, adalah pertanyaan yang kini menjadi perhatian bersama kawasan Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, menyelesaikan karhutla bukan hanya soal menjaga hubungan baik dengan negara tetangga. Ini adalah urusan kedaulatan atas sumber daya alam, tanggung jawab terhadap rakyat yang kehilangan udara bersih, dan ujian kemampuan manajemen bencana di skala nasional.
Sementara negosiasi diplomatik dan kajian teknis atas tawaran bantuan asing terus berjalan, di lapangan api masih terus berkobar, dan personel gabungan masih terus berjuang waktu.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.