Tidak hanya mengandalkan tenaga darat, pemerintah juga mengoperasikan 35 helikopter dan pesawat milik TNI untuk menjalankan misi water bombing atau pengeboman air dari udara. Operasi modifikasi cuaca turut dijalankan dengan menyemai awan menggunakan dry ice dan NaCl, sebuah teknik yang selama ini menjadi andalan ketika hujan buatan dibutuhkan untuk mempercepat pemadaman.
Skala pengerahan yang masif ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menangani bencana yang dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Asap tebal hasil pembakaran lahan telah merambat melampaui batas territorial Indonesia, menutupi langit Malaysia dan Singapura, memperburuk kualitas udara di kedua negara itu hingga memancing respons keras dari kalangan parlemen dan masyarakat setempat.
Kritik dari anggota parlemen Malaysia yang menilai Indonesia tidak serius menangani karhutla mendapat respons langsung dari Sugiono. Ia tidak defensif menghadapi tekanan tersebut, melainkan menyampaikan pemahaman bahwa kekhawatiran negara-negara tetangga adalah hal yang wajar mengingat dampak nyata yang mereka rasakan.
Sugiono menekankan bahwa rakyat Indonesia sendirilah yang pertama dan paling langsung merasakan dampak karhutla. Warga yang tinggal di sekitar titik api dan daerah terdampak asap harus menanggung risiko kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan siapapun. Justru fakta inilah yang membuat pemerintah memiliki kepentingan paling besar untuk segera memadamkan api secepatnya.
Pandangan tersebut sekaligus menjawab tudingan bahwa Indonesia menutup mata terhadap dampak asap yang mencemari udara negara-negara tetangga. Pemerintah Indonesia berargumen bahwa upaya masif yang sedang dijalankan bukan karena tekanan internasional, tetapi karena keharusan melindungi warga negara sendiri yang menjadi korban pertama bencana ini.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.