Summarize the post with AI
JAKARTA, PUNGGAWANEWS — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan kondisi cadangan liquified petroleum gas (LPG) nasional berada dalam level kritis namun masih terkendali. Per Selasa, 14 April 2026, stok LPG tercatat hanya cukup untuk sekitar 11 hari, sedikit di bawah ambang batas minimum nasional yang ditetapkan sebesar 11,4 hari.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman menegaskan bahwa meskipun angka cadangan bervariasi untuk tiap jenis komoditas energi, seluruh pasokan migas secara umum masih dalam kondisi aman. Ia menyebutkan bahwa data terakhir menunjukkan stok LPG berada di angka 11 hari, sehingga pemerintah terus memantau pergerakan distribusi dan konsumsi secara ketat.
Dalam keterangannya, Laode juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan. Ia menilai kelangkaan energi sering kali bukan semata karena keterbatasan pasokan, melainkan dipicu oleh panic buying, gangguan distribusi, hingga faktor cuaca atau kondisi alam.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipatif, Ditjen Migas ESDM mengambil kebijakan strategis dengan mengarahkan kilang LPG swasta untuk memprioritaskan penjualan produk mereka kepada PT Pertamina Patra Niaga. Kebijakan ini bertujuan agar pasokan LPG lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah tingginya kebutuhan. Dengan skema ini, produksi LPG swasta diharapkan dapat langsung diserap untuk distribusi publik melalui Pertamina.
Dari sisi pasokan, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, impor LPG mencapai 1,31 juta metrik ton atau sekitar 83,97 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 1,56 juta metrik ton. Sementara itu, produksi domestik pada periode yang sama hanya menyumbang sekitar 130.000 metrik ton.
Kebutuhan LPG nasional dalam dua bulan pertama 2026 tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari. Mayoritas impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 68,91 persen. Disusul Uni Emirat Arab sebesar 11,83 persen, Arab Saudi 7,36 persen, Qatar 5,21 persen, Australia 3,81 persen, serta Kuwait sebesar 2,61 persen.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa kondisi sulit terkait LPG yang sempat terjadi telah berhasil diatasi sejak awal April 2026. Ia menyebutkan bahwa cadangan saat ini sudah mulai membaik dan berada di atas 10 hari, dengan tambahan pasokan yang segera tiba melalui kargo impor.
Pemerintah optimistis kedatangan kapal-kapal pengangkut LPG dalam waktu dekat akan memperkuat stok nasional dan menjaga stabilitas pasokan di dalam negeri, sekaligus meredam potensi gejolak di masyarakat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.