Summarize the post with AI

Sebagai langkah antisipatif, Ditjen Migas ESDM mengambil kebijakan strategis dengan mengarahkan kilang LPG swasta untuk memprioritaskan penjualan produk mereka kepada PT Pertamina Patra Niaga. Kebijakan ini bertujuan agar pasokan LPG lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan di tengah tingginya kebutuhan. Dengan skema ini, produksi LPG swasta diharapkan dapat langsung diserap untuk distribusi publik melalui Pertamina.

Dari sisi pasokan, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi. Sepanjang Januari hingga Februari 2026, impor LPG mencapai 1,31 juta metrik ton atau sekitar 83,97 persen dari total kebutuhan nasional sebesar 1,56 juta metrik ton. Sementara itu, produksi domestik pada periode yang sama hanya menyumbang sekitar 130.000 metrik ton.

Kebutuhan LPG nasional dalam dua bulan pertama 2026 tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari. Mayoritas impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 68,91 persen. Disusul Uni Emirat Arab sebesar 11,83 persen, Arab Saudi 7,36 persen, Qatar 5,21 persen, Australia 3,81 persen, serta Kuwait sebesar 2,61 persen.



Follow Widget