Gus Ipul menyebut anak-anak yang tidak terjangkau sistem ini sebagai “invisible people.” Mereka mungkin ada di lingkungan sekitar, namun tidak terdeteksi oleh program pemerintah mana pun. Kondisi ini yang mendorong pemerintah mengambil pendekatan berbasis keluarga, bukan sekadar berbasis individu.

Logikanya sederhana namun kuat: kemiskinan bersifat antargenerasi. Ketika seorang anak lahir dalam keluarga miskin, peluangnya untuk tetap miskin jauh lebih besar dibanding anak dari keluarga sejahtera. Sekolah Rakyat dirancang untuk memutus lingkaran itu. Ketika anak lulus, harapannya, seluruh keluarga ikut naik kelas.

“Kalau kita bicara standar pendidikan yang baik, tentu tinggi. Tapi bagaimana semua bisa naik ke sana? Jawabannya gotong royong. Sekolah Rakyat ini menjadi instrumen untuk mengangkat dari bawah,” tegas Gus Ipul.

Tantangan tidak berhenti pada akses semata. Era digital membawa dimensi baru yang kompleks. Generasi muda Indonesia tumbuh sebagai digital native, akrab dengan layar dan teknologi. Namun di sisi lain, ketimpangan akses perangkat dan koneksi internet masih menganga lebar, terutama di daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan perkotaan.