Fenomena robot atau buzzer di media sosial Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Para peneliti dan pegiat literasi digital sudah lama memperingatkan tentang keberadaan akun-akun terkoordinasi yang sengaja diciptakan untuk memanipulasi opini publik. Namun pernyataan dari pejabat setingkat kepala badan nasional yang secara terbuka menyebut angka 60 persen menjadi perhatian tersendiri.
Pakar media sosial dan komunikasi politik selama ini mencatat bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat penetrasi media sosial yang sangat tinggi. Jutaan pengguna aktif setiap harinya mengonsumsi konten dari berbagai platform, mulai dari TikTok, X (dahulu Twitter), Instagram, hingga Facebook. Kondisi ini menjadikan Indonesia lahan yang subur bagi operasi pengaruh berbasis digital.
Sudaryono menyerukan agar publik lebih kritis dalam menyaring informasi. Ia mengajak masyarakat untuk aktif menyebarkan narasi positif tentang capaian pemerintah, alih-alih hanya menjadi penonton pasif yang terseret arus konten negatif buatan robot.
Dalam penutup videonya, ia menyampaikan semangat perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai “hak asasi robot” — sindiran pedas terhadap kondisi di mana mesin justru lebih dominan mengisi ruang diskursus publik daripada warga negara yang sesungguhnya.
Pernyataan Sudaryono ini memantik reaksi beragam dari publik. Sebagian mendukung dan menganggap pengungkapan ini penting untuk membuka mata masyarakat. Sebagian lain mempertanyakan darimana angka 60 persen itu berasal dan apakah ada data ilmiah yang mendukungnya. Terlepas dari itu, kekhawatiran tentang manipulasi opini publik melalui akun bot di media sosial adalah isu serius yang patut mendapat perhatian lebih luas.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.