Ia lalu mengambil contoh konkret. Pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang kemudian ditetapkan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pencapaian nyata pemerintahan Prabowo. Namun prestasi itu nyaris tidak mendapat perhatian publik karena kalah ramai dibanding hujatan yang disebarkan oleh akun-akun robot.
Sudaryono menyebutkan beberapa capaian positif lainnya yang menurutnya luput dari perhatian. Di era Prabowo, sejumlah koruptor yang selama ini tidak tersentuh hukum akhirnya berhasil ditangkap. Langkah ini, katanya, adalah bukti nyata bahwa pemerintahan Prabowo berani oligarki dan kepentingan korup.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian ini meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi liar yang beredar. Ia menekankan pentingnya kemampuan publik untuk memilah informasi dan tidak ikut arus yang dikendalikan mesin.
Sudaryono juga menyoroti bagaimana algoritma media sosial turut memperparah kondisi ini. Konten yang memancing emosi negatif cenderung lebih cepat viral dan lebih banyak mendapat interaksi dibanding berita yang bersifat konstruktif atau informatif. Pola ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memperbesar kesan bahwa dukungan publik terhadap pemerintah tengah merosot.
Ia mengajak masyarakat untuk berdiri tegak dan tidak menyerah pada dominasi robot-robot tersebut. Sudaryono meyakini bahwa Prabowo tidak gentar menghadapi tekanan dari pihak mana pun, baik dari dalam negeri maupun dari luar. “Pak Prabowo tidak takut siapa pun, tidak takut asing, tidak takut oligarki,” ujarnya penuh keyakinan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.