Summarize the post with AI

SIDRAP, PUNGGAWANEWS — Waktu terasa berhenti sejenak ketika La dalle Abdullah, 61 tahun, akhirnya menginjakkan kaki di jalur keberangkatan menuju Mekah. Bukan karena perjalanan itu mudah — justru sebaliknya. Di balik langkah pelan pria kelahiran 1965 itu tersimpan kisah panjang yang dimulai dari jalanan berdebu, kemudi truk pengangkut gabah, dan lembaran uang receh yang dikumpulkan satu per satu selama puluhan tahun.

La dalle tergabung dalam Kelompok Terbang 2 Embarkasi Makassar, bersama 387 jemaah haji asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang tahun ini mendapat giliran berangkat ke tanah suci.

Niat untuk berhaji sudah bersemayam dalam diri La dalle sejak era 1980-an, ketika ia masih muda dan menghabiskan hari-harinya di balik kemudi truk. Penghasilannya kala itu sangat terbatas — hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun dari penghasilan yang tak seberapa itu, ia selalu menyisihkan sedikit, sekadar seribu atau dua ribu rupiah, yang kemudian ia masukkan ke dalam tabungan dengan satu tekad: naik haji.

“Dari tahun 80-an kita sudah menabung. Gaji sedikit, seribu, dua ribu dikumpul,” ungkapnya dengan logat khas Sulawesi Selatan yang kental.

Pada April 2011, La dalle resmi mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji. Sejak saat itu, ia memasuki babak baru yang tak kalah panjang: menunggu. Selama 16 tahun ia bersabar, hingga namanya akhirnya terpanggil pada musim haji tahun ini.

Kini di usia senja, kondisi fisiknya tak lagi sekuat dulu. Berbagai penyakit mulai menggerogoti tubuhnya, dan ia pun sudah lama meninggalkan profesi sebagai sopir. Namun hal yang paling menyentuh adalah kenyataan bahwa ia akan berangkat seorang diri — sang istri telah lebih dahulu menunaikan ibadah haji, begitu pula anak-anaknya.

“Berangkat sendirian. Istri, anak sudah naik semua,” tuturnya tenang, seolah kesendirian itu bukan beban, melainkan bagian dari takdir yang ia terima dengan lapang dada.

Kisah La dalle menjadi cermin dari kesabaran yang melampaui batas generasi. Ia membuktikan bahwa panggilan Ilahi tidak mengenal besar kecilnya penghasilan — hanya ketulusan niat dan kegigihan yang tak pernah padam, meski dikepung keterbatasan selama puluhan tahun.



Follow Widget