Para pengamat hubungan internasional menilai KTT kali ini memiliki bobot yang lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kawasan Asia Tenggara sedang diuji kemampuannya untuk menjaga netralitas dan otonomi strategis di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang semakin intens.

Kehadiran fisik para pemimpin, termasuk Prabowo, dalam forum seperti ini memiliki nilai tersendiri. Diplomasi tatap muka masih menjadi instrumen yang tidak tergantikan untuk membangun kepercayaan dan menyampaikan pesan yang tidak selalu bisa diartikulasikan lewat dokumen resmi.

KTT ke-48 ASEAN di Manila menjadi ujian nyata apakah kawasan ini mampu berbicara dengan satu suara di hadapan dunia yang tengah berubah cepat. Dan Indonesia, melalui kehadiran Presiden Prabowo, memilih untuk ada di garis terdepan percakapan itu.