Pernyataan itu relevan dengan kondisi saat ini, ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi berbagai tekanan eksternal, mulai dari ketegangan perdagangan global, perubahan iklim, hingga eskalasi sengketa di Laut Cina Selatan yang menyentuh kepentingan beberapa negara anggota.
Upacara pembukaan ditutup dengan sesi foto bersama yang menjadi simbol visual persatuan ASEAN. Dalam momen itu, Prabowo tampak berdiri di antara Sultan Brunei Darussalam, Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet — sebuah gambaran keseimbangan dan solidaritas yang coba ditampilkan kawasan kepada dunia.
Keikutsertaan Prabowo dalam KTT ini bukan hal yang bisa dilewatkan begitu saja. Sebagai negara terbesar di ASEAN dari sisi populasi dan ekonomi, Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk memastikan kawasan tetap stabil dan tidak terseret dalam polarisasi global.
Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia tampak konsisten menempatkan diplomasi regional sebagai prioritas. KTT ke-48 ini menjadi salah satu forum penting tempat posisi Indonesia dapat dipertegas, terutama dalam mendorong ASEAN agar tetap menjadi aktor yang relevan dan tidak mudah dipengaruhi kekuatan besar dari luar kawasan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.