Pernyataan paling menggugah datang di penghujung pidatonya. Dengan nada tegas, Prabowo menutup seruan itu dengan kalimat yang langsung menghujam: tanpa pangan, tidak ada masyarakat; tanpa pangan, tidak ada kemerdekaan; tanpa pangan, tidak ada perdamaian.
Kalimat itu bukan retorika kosong. Di tengah tekanan perubahan iklim, fragmentasi rantai pasok global, dan ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, seruan Prabowo di Cebu merefleksikan kekhawatiran yang kian dirasakan banyak pemimpin kawasan—bahwa ASEAN perlu segera bergerak dari wacana menuju tindakan nyata dalam mengamankan meja makan rakyatnya.
KTT ke-48 ASEAN sendiri menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih aktif dalam agenda ketahanan pangan kawasan, sejalan dengan program swasembada pangan yang tengah dijalankan pemerintahan Prabowo di dalam negeri.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.