Dalam forum bergengsi itu, Prabowo mendorong sejumlah langkah konkret. Ia mengusulkan penguatan pertukaran informasi pangan antarnegara, diversifikasi sumber pangan kawasan, percepatan adopsi teknologi pertanian, serta optimalisasi cadangan pangan bersama. Semua itu, menurutnya, harus dijalankan secara terintegrasi.
Salah satu usulan yang paling spesifik adalah penyederhanaan mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve—sistem cadangan beras darurat yang melibatkan negara-negara ASEAN bersama Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Prabowo menilai sistem itu perlu dipangkas birokrasinya agar bisa bergerak cepat saat krisis benar-benar terjadi.
Ia juga mendorong pengembangan cadangan pangan berbasis cadangan lokal. Pendekatan ini dianggap lebih adaptif terhadap kondisi geografis dan iklim masing-masing negara, sekaligus memperkuat kemandirian kawasan dari ketergantungan impor pangan jangka panjang.
Bagi Prabowo, ketahanan pangan bukan urusan pasar semata. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus hadir secara aktif, bahkan memimpin langsung dalam menjaga pasokan dan kedaulatan pangan. Indonesia, katanya, berkomitmen penuh untuk memikul tanggung jawab itu.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.