Presiden juga memastikan ia telah memberi peringatan internal kepada seluruh jajarannya jauh sebelum pidato ini. Penyalahgunaan wewenang, apa pun bentuknya, akan berujung pada satu konsekuensi: pencopotan jabatan tanpa kompromi.

“Siapapun yang menyimpang akan kita bersihkan,” tegasnya.

Namun kritik Prabowo tidak berhenti di lingkaran birokrasi semata. Ia bahkan menyeret nama institusi yang paling dekat dengannya secara politik: Partai Gerindra. Sebagai Ketua Umum partai berlambang kepala garuda itu, Prabowo mengungkapkan rasa frustrasinya secara terbuka. Kemenangan dalam kontestasi politik seharusnya menjadi amanah, bukan pintu masuk menuju pesta kekuasaan.

“Saya juga sebagai Ketua Umum Gerindra kapok juga. Baru menang sudah kayak gini,” ucapnya dengan nada yang mencerminkan kekecewaan mendalam.