Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, RIYADH — Sebuah pesawat komando canggih milik Amerika Serikat, Boeing E-3 Sentry AWACS, dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga tidak bisa digunakan kembali setelah menjadi sasaran serangan rudal balistik Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, pada 27 Maret lalu. Insiden ini langsung memantik kekhawatiran serius di kalangan analis pertahanan mengenai melemahnya kemampuan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Newly released satellite imagery of the USAF E-3 Sentry (AWACS) that was struck at Prince Sultan Airbase in Saudi Arabia.
— defend the field (@defendthefield) March 29, 2026
This is the first combat loss of an E-3 in history. https://t.co/KbcHpcehZh pic.twitter.com/NH26f29ufY
Dikutip dari Reuters dan sejumlah sumber intelijen terbuka, pesawat senilai sekitar 270 juta dolar AS atau setara Rp 4,6 triliun itu tengah terparkir di landasan pacu ketika hantaman rudal menghancurkan sebagian besar badan pesawat. Foto-foto yang beredar luas di media sosial, termasuk dari akun X @defendthefield, memperlihatkan kerusakan masif pada struktur pesawat. Beberapa unit pesawat lain yang berada di sekitar lokasi turut mengalami dampak dari serangan tersebut. Sedikitnya 12 personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka.
Mengacu pada laporan Air and Space Forces Magazine, tingkat kerusakan yang dialami pesawat tersebut hampir dipastikan melampaui batas kelayakan perbaikan. Sejumlah analis dari komunitas intelijen sumber terbuka bahkan menyebut pesawat itu sebagai kerugian total atau total loss.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
E-3 Sentry AWACS bukan sekadar pesawat biasa. Aset strategis ini berfungsi sebagai pusat komando dan kendali udara yang mampu mendeteksi ancaman dalam radius ratusan kilometer, sekaligus mengkoordinasikan operasi pengisian bahan bakar jet tempur dan sistem pertahanan rudal. Dalam berbagai operasi di kawasan, platform ini digunakan untuk melacak pergerakan drone serta mendukung misi pesawat tempur generasi terbaru seperti F-35.
Kehilangan satu unit E-3 menjadi pukulan telak mengingat armada ini sangat terbatas jumlahnya. Angkatan Udara AS saat ini hanya mengoperasikan sekitar 16 unit E-3 yang masih aktif, dengan sebagian di antaranya digelar di Timur Tengah. Berkurangnya satu unit secara permanen berpotensi menambah tekanan pada kesiapan tempur keseluruhan armada.
Para pengamat pertahanan menilai serangan ini bukan terjadi secara kebetulan. Iran diyakini secara sengaja membidik aset-aset strategis AS yang sulit digantikan dalam waktu singkat. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa pesawat penerus E-3, yakni E-7A Wedgetail, masih menghadapi berbagai kendala pengembangan dan diperkirakan baru siap beroperasi penuh dalam beberapa tahun ke depan.
Di tengah meningkatnya konsumsi amunisi dan kerugian peralatan di kawasan, operasi militer AS disebut terus berlangsung meski tekanan terhadap kapabilitas pertahanan negara itu kian menguat.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.