JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Penggantian besar-besaran gas melon LPG 3 kilogram yang selama ini jadi andalan dapur rakyat Indonesia tampaknya bukan sekadar wacana. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program konversi LPG ke compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kg sudah memasuki tahap uji coba, dan ditargetkan bisa dinikmati masyarakat umum sebelum akhir tahun 2026.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa uji coba teknis tabung CNG 3 kg sedang berlangsung dan diperkirakan rampung dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Setelah hasil uji dinyatakan layak dan aman, pemerintah akan segera mengambil keputusan untuk memulai konversi secara resmi.

Tantangan teknis terbesar dari program ini bukan soal ketersediaan gas, melainkan soal tekanan. CNG memiliki tekanan jauh lebih tinggi dibanding LPG, yakni berkisar 200 hingga 250 bar. Angka ini setara dengan 2.900 hingga 3.600 psi—tekanan yang menuntut desain tabung yang sama sekali berbeda dari tabung melon yang selama ini dikenal masyarakat.

Untuk mengatasinya, pemerintah mengarahkan penggunaan tabung tipe 4, yakni tabung berbahan polimer atau plastik khusus yang dibungkus dengan material komposit seperti carbon fiber dan fiberglass. Jenis tabung ini diklaim jauh lebih ringan dan mampu menahan tekanan hingga 650 bar—lebih dari dua kali lipat tekanan operasional normal tabung CNG.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa proyek percontohan akan dimulai di kota-kota besar di Pulau Jawa. Langkah bertahap ini dipilih agar pemerintah dapat memastikan kesiapan infrastruktur distribusi sebelum program diperluas ke seluruh Indonesia.

“Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat. Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa,” ujar Laode kepada awak media di Jakarta Selatan, Selasa, 5 Mei 2026.

Saat ini, CNG dalam ukuran lebih besar—10 kg dan 20 kg—sudah digunakan oleh sejumlah sektor industri, termasuk perhotelan, restoran, dan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun untuk segmen rumah tangga yang selama ini menjadi pengguna terbesar LPG 3 kg, inovasi pada ukuran kecil ini menjadi kunci keberhasilan program konversi.

Dari sisi ekonomi, Bahlil menyebut CNG menawarkan efisiensi yang signifikan. Berdasarkan kajian awal, harga CNG diproyeksikan lebih murah sekitar 30 hingga 40 persen dibanding LPG. Keunggulan ini lahir dari fakta bahwa Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang kaya akan kandungan metana (C1) dan etana (C2)—dua komponen utama CNG—sehingga tidak membutuhkan impor.

“Karena gasnya ada di kita dan industrinya pun dalam negeri. Biaya transportasi saja sudah bisa menutupi selisih harganya,” kata Bahlil saat ditemui di Istana Kepresidenan, Selasa, 5 Mei 2026.

Meski lebih murah, pemerintah tidak menutup kemungkinan pemberian subsidi untuk tabung CNG 3 kg. Sebagai gambaran, subsidi LPG saat ini berkisar Rp18.000 hingga Rp20.000 per tabung. Besaran subsidi untuk CNG masih dikaji, menyesuaikan dengan skema distribusi yang sedang disusun.

Soal peran PT Pertamina dan sektor swasta dalam rantai pasok—mulai dari pengadaan gas bumi, pengisian tabung, hingga distribusi ke konsumen—Laode mengaku belum dapat mengumumkan polanya. Menteri Bahlil disebut memimpin langsung penyusunan peta jalan implementasi yang akan diumumkan resmi kepada publik setelah kajian rampung.

Yang jelas, pemerintah sadar bahwa kesiapan tabung dan kesiapan distribusi harus berjalan seiring. “Ada sisi penyiapan tabung, ada distribusinya. Nah ini harus matching,” tegas Laode.

Program konversi ini sejalan dengan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan pada LPG yang sebagian besar masih diimpor, sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya gas alam domestik yang melimpah. Jika berhasil, transisi dari tabung melon ke tabung CNG bisa menjadi salah satu perubahan paling mendasar dalam kebijakan energi rumah tangga Indonesia dalam satu dekade terakhir.

FAQ :

Apa itu CNG dan bagaimana cara kerjanya sebagai bahan bakar rumah tangga?

CNG atau compressed natural gas adalah gas alam yang dimampatkan pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar. Gas ini terdiri dari metana dan etana yang disimpan dalam tabung bertekanan khusus, kemudian digunakan untuk memasak layaknya LPG, namun dengan sumber pasokan yang berasal dari cadangan gas bumi domestik.

Kapan tabung CNG 3 kg bisa mulai digunakan masyarakat umum?

Pemerintah menargetkan tabung CNG 3 kg sudah bisa dikonsumsi masyarakat pada tahun 2026, setelah uji coba teknis yang berlangsung selama dua hingga tiga bulan dinyatakan selesai dan aman. Tahap awal distribusi akan dimulai di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Apakah harga CNG 3 kg akan lebih murah dari LPG?

Berdasarkan kajian Kementerian ESDM, CNG diproyeksikan lebih murah sekitar 30 hingga 40 persen dibanding LPG karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri dan tidak membutuhkan impor. Pemerintah juga masih mengkaji kemungkinan pemberian subsidi untuk meringankan beban masyarakat.