MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Sulawesi Selatan sedang bergerak. Di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, provinsi yang menjadi pintu gerbang Indonesia Timur ini menggenjot pembangunan besar-besaran lewat skema Multi-Years Project senilai Rp3,7 triliun—sebuah taruhan ambisius yang ditargetkan tuntas pada 2027.

Bukan sekadar janji kampanye. Proyek ini sudah berjalan, alat berat sudah bergerak, dan sebagian ruas jalan sudah bisa dinikmati warga. Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung: seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat Sulsel yang selama ini menanggung beban infrastruktur yang compang-camping?

Tiga pilar menjadi fokus utama program ini: konektivitas jalan, rehabilitasi irigasi, dan pembangunan rumah sakit daerah. Ketiganya bukan dipilih secara sembarangan. Gubernur Andi Sudirman menyebut pilihan itu lahir dari pembacaan langsung atas kebutuhan warga.

Jalan rusak telah lama menjadi musuh utama distribusi barang dan jasa di Sulawesi Selatan. Harga pangan melonjak bukan karena pasokan kurang, melainkan karena mobilitas tersumbat. Jalan adalah urat nadi, dan urat nadi itu selama bertahun-tahun tersumbat.

Pembangunan infrastruktur jalan dibagi dalam enam paket. Paket pertama mencakup 13 ruas jalan dengan total anggaran Rp430 miliar, menangani ruas-ruas kritis seperti Arupala–Arahino dan Patalassang. Per laporan terakhir, progres keseluruhan paket satu telah mencapai 18 persen, dengan satu segmen paling maju sudah di angka 14 persen.

Yang menarik, sejumlah ruas tidak diaspal melainkan dicor beton. Alasannya teknis namun logis: tanah di bawahnya tidak cukup kuat menahan beban aspal akibat lalu lintas truk-truk besar dari arah Goa-Malino menuju Makassar. Beton menjadi solusi jangka panjang yang lebih tahan banting.

Paket dua menyasar zona penyangga Makassar dengan target 209,38 kilometer jalan. Salah satu ruas yang paling ditunggu warga adalah jalan poros batas kota Makassar-Boronramba di Kabupaten Gowa sepanjang 19,62 kilometer—progresnya sudah hampir separuh jalan.

Groundbreaking teranyar dilakukan di ruas Pau-Buah di kawasan Duwu, sebuah jalur strategis yang menghubungkan bandara dengan akses menuju Toraja dan Luwu. Ruas ini dikenal warga setempat sebagai jalur yang sudah lama rusak parah dan berdebu. Kini akhirnya mendapat perhatian serius.

Hambatan di lapangan tidak sedikit. Bangunan warga yang berdiri di atas saluran drainase atau melampaui batas jalan memaksa tim harus negosiasi ulang sebelum pembongkaran bisa dilakukan. Kemacetan sementara akibat pekerjaan konstruksi juga menjadi keluhan tersendiri. Belum lagi cuaca yang kadang tidak bersahabat.

Gubernur Andi Sudirman menampik kekhawatiran soal keterlambatan. Ia menyebut sudah ada kurva progres yang terperinci, dengan pembagian pekerjaan per seksi dan per kuartal hingga 2026-2027. Pengelolaan arus kas anggaran dan kapasitas kontraktor turut diperhitungkan agar pekerjaan tidak tumpang tindih.

Di sisi irigasi, kondisi jaringan yang rusak di berbagai wilayah Sulsel telah memangkas produktivitas pertanian secara signifikan. Air yang dilepas dari hulu tidak sampai penuh ke hilir karena saluran bocor di mana-mana. Petani di Pangkep, misalnya, mengeluhkan hasil panen yang terus merosot akibat debit air yang tak pernah cukup.

Program rehabilitasi irigasi dikemas dalam empat paket yang mencakup wilayah selatan, utara, dan timur Sulsel. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp500 miliar dari pagu Rp780 miliar—lebih efisien dari perkiraan awal karena sistem pengemasan paket yang terintegrasi. Dengan efisiensi itu, masih ada sisa anggaran sekitar Rp200 miliar yang bisa digunakan untuk perluasan jaringan baru.

Target konkretnya: 54.000 hektare lahan pertanian mendapat pasokan air yang memadai. Jika berhasil, Indeks Pertanaman (IP) bisa didorong dari IP200 menjadi IP300—artinya petani bisa panen tiga kali setahun, atau minimal lima kali dalam dua tahun. Lonjakan produksi dari sekitar 800 hektare bisa menembus 1.200 hektare lahan aktif.

Gubernur juga menegaskan bahwa pemantauan kualitas pekerjaan dilakukan langsung ke lapangan, bukan sekadar dari meja laporan. Masyarakat pun didorong aktif melapor lewat media sosial jika menemukan kejanggalan dalam pelaksanaan konstruksi—sebuah mekanisme pengawasan berbasis publik yang tidak biasa.

Pilar ketiga adalah rumah sakit daerah. Setelah sebelumnya membangun RSUD di Bone untuk melayani kawasan timur (Bosowasi: Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai), kini giliran wilayah selatan dan utara yang mendapat fasilitas serupa.

RSUD baru direncanakan berdiri di Gowa dan Luwu. Kawasan Malino dipilih bukan hanya karena kepadatan penduduknya, tetapi juga karena potensi pariwisata—rumah sakit sekaligus menjadi penopang ekosistem setempat. Sementara Luwu dipilih karena jarak geografisnya yang jauh dari pusat layanan kesehatan yang ada.

Standar yang ditetapkan cukup ambisius: bangunan bertipe C, namun peralatan medis berstandar tipe B. Filosofinya sederhana—pelayanan dekat dengan komunitas tidak berarti kualitasnya harus dikompromikan. Rekrutmen dokter spesialis juga dirancang dengan insentif khusus: fasilitas hunian, kendaraan dinas, dan sistem kerja shift agar tenaga medis tidak menumpuk di Makassar.

Gubernur bahkan sudah merancang konsep “sekolah unggulan” dengan standar internasional sebagai kelanjutan visi pembangunan SDM—dan membuka peluang Multi-Years Project Volume II untuk menampung program-program lanjutan yang belum terakomodasi.

Proyek Rp3,7 triliun ini bukan hanya soal jalan, air, dan rumah sakit. Ia adalah pernyataan bahwa Sulawesi Selatan serius membenahi dirinya dari dalam—satu ruas jalan, satu saluran irigasi, satu ruang perawatan dalam satu waktu.

FAQ

Apa saja yang termasuk dalam Multi-Years Project Sulawesi Selatan senilai Rp3,7 triliun?

Program ini mencakup tiga fokus utama: pembangunan dan rehabilitasi jalan provinsi yang terbagi dalam enam paket, rehabilitasi jaringan irigasi untuk mendukung sektor pertanian di empat paket wilayah, serta pembangunan rumah sakit daerah di Kabupaten Gowa dan Luwu.

Kapan Multi-Years Project Sulawesi Selatan ditargetkan selesai?

Seluruh paket dalam program ini ditargetkan rampung pada tahun 2027, dengan progres yang terus dipantau secara bertahap per kuartal mengikuti kurva pekerjaan yang telah ditetapkan sejak awal.

Bagaimana program irigasi Multi-Years Project berdampak pada petani Sulawesi Selatan?

Rehabilitasi jaringan irigasi diharapkan mendorong Indeks Pertanaman dari IP200 menjadi IP300, memungkinkan petani panen tiga kali setahun. Cakupan lahan yang dapat dialiri secara optimal ditargetkan mencapai 54.000 hektare dengan anggaran sekitar Rp500 miliar.



Follow Widget