Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, Tidak semua orang yang meraih derajat haji mabrur harus menginjakkan kaki di tanah Makkah. Sebuah kisah yang diabadikan dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah Al-Qulyubi mengisahkan seorang lelaki sederhana yang justru mendapatkan predikat tertinggi dalam ibadah haji tanpa pernah berangkat ke Baitullah.
Kisah ini berawal dari mimpi Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama terkemuka yang baru saja menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji. Dalam tidurnya, ia menyaksikan dua malaikat turun dari langit dan bercakap-cakap.
“Berapa orang yang datang tahun ini untuk berhaji?” tanya salah satu malaikat.
“Enam ratus ribu jemaah,” jawab yang lain.
“Berapa banyak yang diterima ibadah hajinya?”
“Tidak satu pun.”
Mendengar itu, Abdullah gemetar dan menangis dalam mimpinya. Ia tak sanggup membayangkan begitu banyak orang yang datang dari penjuru bumi yang jauh, menyusuri padang pasir yang luas, menanggung kelelahan yang panjang, namun semua usaha mereka dinyatakan sia-sia. Namun percakapan kedua malaikat itu belum selesai.
“Namun ada seseorang yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia pula, seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Itu kehendak Allah.”
“Siapa orang tersebut?”
“Ali bin Al-Muwaffaq, tukang sol sepatu di Kota Damasqus.”
Terbangun dengan hati bergetar dan dipenuhi rasa penasaran, Abdullah tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia membelokkan langkah menuju Damaskus, Suriah, untuk mencari kebenaran mimpi itu. Setelah bertanya kepada hampir semua tukang sol sepatu di kota tersebut, ia akhirnya diarahkan ke pinggiran kota.
Di sana ia mendapati seorang lelaki berpakaian amat lusuh yang tengah tekun bekerja. “Benarkah anda bernama Ali bin Al-Muwaffaq?” tanya Abdullah.
“Betul, tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, padahal anda tidak berangkat haji?”
“Wah, saya sendiri tidak tahu, tuan.”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.”
Kepada Abdullah yang datang mencarinya, Ali kemudian membuka cerita yang selama ini tersimpan rapat. Selama puluhan tahun ia menabung dari hasil menambal sepatu, sedikit demi sedikit, hingga pada tahun itu ia berhasil mengumpulkan 350 dirham, jumlah yang cukup untuk berangkat haji. Tekadnya sudah bulat. Namun takdir berkata lain.
Menjelang keberangkatannya, sang istri yang tengah hamil tiba-tiba mencium aroma masakan yang begitu menggoda. “Suamiku, adakah engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?” pintanya. “Cobalah kau cari siapa yang memasak. Mintalah sedikit untukku.”
Ali menelusuri aroma itu hingga tiba di sebuah gubuk nyaris roboh di ujung kampung, tempat seorang janda tinggal bersama enam anaknya. Ia menyampaikan maksudnya, bahwa istrinya sangat menginginkan masakan yang sedang dimasak. Janda itu hanya diam memandanginya, hingga Ali mengulangi perkataannya.
“Tidak boleh, Tuan,” kata janda itu akhirnya.
“Dijual berapapun akan saya beli.”
“Makanan itu tidak dijual, Tuan,” jawabnya sambil berlinang air mata.
“Kenapa?”
Dengan suara sesenggukan, janda itu menjawab, “Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan.” Ali tertegun. Dalam hatinya ia bertanya, bagaimana mungkin ada makanan yang halal bagi seseorang tetapi haram bagi orang lain, padahal keduanya sama-sama muslim. Ia mendesak lagi.
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah sama sekali tak ada makanan. Hari ini kami melihat seekor keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.”
Ali menangis. Ia pulang dan menceritakan semuanya kepada sang istri, yang pun ikut menangis. Tanpa pikir panjang, keduanya memasak makanan yang layak dan mengantarkannya ke rumah janda itu. Tak hanya itu, seluruh 350 dirham tabungan haji yang bertahun-tahun dikumpulkannya ia serahkan kepada janda tersebut.
“Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.”
Mendengar cerita itu, Abdullah bin Al-Mubarak tidak kuasa menahan air matanya. Inilah rupanya amalan yang membuat Allah menerima ibadah haji seorang Ali bin Al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu yang bahkan tidak pernah meninggalkan kotanya. Kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa kemurahan hati kepada sesama, terutama ketika diri sendiri tengah dalam kebutuhan, adalah amal yang tidak pernah luput dari penglihatan Allah.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.