Di tengah sesi kunjungan itu, Mu’ti menyampaikan pesan yang terasa sederhana namun sarat makna kepada para murid. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Supaya ilmu kita tidak lupa, maka kita tulis sehingga ilmunya menjadi kita ikat dengan baik,” ujarnya, dikutip Minggu, 10 Mei 2026.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi pagi hari. Mu’ti sungguh-sungguh menempatkan budaya menulis sebagai pilar penting dalam proses belajar. Menulis, menurutnya, bukan hanya soal merangkai kata—aktivitas itu melatih koordinasi motorik, memperkuat daya ingat, sekaligus membangun kebiasaan belajar yang disiplin dan aktif sejak usia dini.

Penguatan literasi dan kebiasaan menulis memang menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam visi pendidikan yang diusung Mu’ti. Di saat layar sentuh semakin mendominasi keseharian anak-anak, dorongan untuk kembali ke aktivitas menulis tangan terasa semakin relevan—bukan sebagai langkah mundur, melainkan sebagai fondasi yang kokoh bagi kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Kunjungan ke SDN 6 Sumerta juga memiliki dimensi lain yang tak kalah penting. Sekolah ini termasuk dalam daftar penerima bantuan revitalisasi tahun 2026 melalui Program Hasil Terbaik Cepat yang digagas Presiden Prabowo Subianto, dengan tajuk Wujudkan Sekolah ASRI. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membenahi kondisi fisik sekolah-sekolah yang selama ini kekurangan perhatian.