Di sisi lain, Aceh mendapat porsi terbesar dari sisi kapasitas. Dua bendungan baru dengan total daya tampung lebih dari 344 juta meter kubik menjadikan provinsi paling barat Indonesia ini punya modal air yang jauh lebih kuat untuk menopang pertanian dan kebutuhan domestik.

Nilai investasi Rp9,79 triliun yang tertanam di lima bendungan ini bukan angka kecil. Namun bila diukur dari dampak jangka panjangnya—stabilitas pasokan pangan, pengurangan bencana hidrologis, hingga potensi listrik tenaga air—kalkulasinya jauh melampaui angka di atas kertas.

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur strategis serupa. Bendungan bukan proyek prestisius semata, melainkan investasi generasional yang buahnya akan dipetik jauh setelah masa pembangunan selesai.

Peresmian serentak ini juga menjadi sinyal politik yang jelas: kabinet Prabowo ingin menunjukkan bahwa janji swasembada pangan bukan wacana kosong. Infrastruktur air adalah fondasi pertama yang harus kokoh sebelum target-target besar itu bisa dikejar.

Kini, lima bendungan telah berdiri. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengelolaan dan distribusi airnya bisa benar-benar menyentuh petani di lapisan paling bawah—bukan hanya mengalir ke angka-angka statistik.



Follow Widget