Dalam pidatonya, Prabowo menekankan satu hal yang kerap luput dari perhatian publik: air bukan sekadar kebutuhan, melainkan fondasi kedaulatan bangsa. Tanpa pengelolaan air yang baik, ketahanan pangan hanyalah slogan.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Kelima bendungan ini dirancang untuk menjawab empat tantangan besar sekaligus: meningkatkan produktivitas pertanian lewat irigasi yang lebih andal, menyediakan air baku bagi masyarakat di sekitar kawasan, menekan risiko banjir dan kekeringan yang makin tak menentu akibat perubahan iklim, serta mendukung pengembangan energi terbarukan berbasis air.
Selama bertahun-tahun, Indonesia menghadapi paradoks yang menyakitkan: negeri dengan curah hujan tinggi, namun jutaan hektare lahan pertanian tetap kering di musim kemarau. Ketimpangan distribusi air menjadi salah satu biang kerok rendahnya produktivitas pangan di banyak daerah.
Pembangunan bendungan adalah jawaban paling konkret atas paradoks itu. Dengan infrastruktur tampungan air yang memadai, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hujan. Musim tanam bisa diperluas, hasil panen bisa ditingkatkan, dan ketergantungan pada impor pangan bisa ditekan secara bertahap.
Pemilihan lokasi peresmian di Bendungan Meninting pun bukan tanpa alasan. NTB adalah salah satu daerah yang paling merasakan dampak kekeringan musiman. Kehadiran bendungan baru di sini diharapkan menjadi titik balik bagi ketahanan air lokal yang selama ini rapuh.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.