“Masalahnya ada pada akses jalan logistik dari pelabuhan atau bandara terdekat sampai ke titik lokasi Sekolah Rakyat. Setiap tempat punya masalah sendiri, dan satu per satu kita cari solusinya agar akhir Juni ini benar-benar bisa selesai,” jelas Dody.
Pernyataan itu menggarisbawahi satu kenyataan yang kerap luput dari perhatian publik: membangun sekolah di Indonesia bukan hanya soal bata dan semen. Ini soal menjangkau titik-titik yang selama ini terlupakan—daerah yang jalan masuknya sempit, jembatannya tidak kuat, dan jalur logistiknya belum pernah dirancang untuk proyek skala besar.
Dengan tenggat akhir Juni sebagai batas selesainya pekerjaan fisik, dan Juli sebagai penanda dimulainya kegiatan belajar-mengajar, tekanan waktu semakin terasa. Kementerian PU kini berada di titik kritis: setiap hari yang berlalu adalah satu hari lebih dekat menuju janji yang harus ditepati kepada anak-anak yang sudah lama menunggu bangku sekolah baru mereka.
Progres 78 persen bukan angka kecil. Tapi 22 persen sisanya adalah pekerjaan rumah yang tidak ringan—terutama di wilayah-wilayah yang infrastrukturnya masih berjuang mengejar kebutuhan zaman.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.