Meski begitu, Dody menegaskan pemerintah tidak mundur dari komitmen awalnya. Target yang dikejar adalah memastikan gedung tingkat SD, SMP, dan SMA bisa difungsikan pada pertengahan Juli—bertepatan dengan pembukaan tahun ajaran baru. Untuk Sukoharjo secara khusus, Dody menargetkan kesiapan fisik menembus angka 90 persen ketika tenggat itu tiba.

“Kita tetap optimistis. Minimum gedung SD, SMP, dan SMA bisa kita selesaikan dulu agar adik-adik bisa masuk ke sekolah yang baru di tahun ajaran baru pada Juli nanti. Kalaupun ada beberapa tempat yang belum 100 persen tuntas, minimal harus sudah fungsional,” tegasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Pemerintah menyadari bahwa keterlambatan sehari pun berdampak langsung pada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang menjadi sasaran utama program Sekolah Rakyat—sebuah inisiatif pendidikan inklusif yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Dody juga memetakan perbedaan karakter tantangan antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Di Sukoharjo dan sejumlah lokasi lain di Pulau Jawa, pekerjaan kini berada pada fase arsitektural dan finishing—tahapan yang membutuhkan ketelitian tinggi dan sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kerja terampil. Fase ini, menurut Dody, justru yang paling memakan waktu dalam keseluruhan proses konstruksi.

Situasinya berbeda di luar Jawa. Di Sumatra, Maluku, dan Sulawesi, hambatan paling besar bukan pada kualitas pengerjaan, melainkan pada rantai distribusi material dari titik masuk hingga ke lokasi pembangunan.



Follow Widget