MADINAH, PUNGGAWANEWS – Ribuan jemaah haji Indonesia di Madinah menyambut musim haji 2026 dengan senyum. Bukan hanya karena bisa menginjakkan kaki di Kota Nabi, tapi juga karena menu makan yang tersaji terasa seperti masakan rumah sendiri — bumbu Nusantara yang akrab di lidah, jauh dari tanah air.
Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Ade Muhtar, turun langsung ke lapangan pada Jumat, 8 Mei 2026, meninjau akomodasi dan layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Sektor 1 Madinah. Kunjungan itu sekaligus menjadi momen evaluasi operasional menjelang fase puncak ibadah haji.
Dari hasil peninjauan, satu temuan menonjol: layanan konsumsi menjadi aspek yang paling banyak mendapat pujian dari para jemaah. Kebijakan melibatkan UMKM Indonesia serta penggunaan bumbu dan pasta dari dalam negeri terbukti membuat jemaah merasa tidak sedang berada jauh dari kampung halaman.
“Konsumsi dengan adanya pemberdayaan UMKM kemudian penyedia bumbu dari tanah air, mereka merasakan cita rasa menu nusantara, merasa di rumahnya sendiri. Tidak kekurangan, mereka merasa puas,” kata Ade usai meninjau lokasi.
Pernyataan itu bukan sekadar laporan birokratis. Di sekitar Masjid Nabawi, pengakuan serupa mengalir langsung dari jemaah. Lila Kholilah, asal Indramayu, Jawa Barat, mengaku puas dengan makanan dan kondisi kamar yang ia tempati selama di Madinah.
“Untuk makanan alhamdulillah kita suka, enak. Kamar juga alhamdulillah bersih, kamar mandi juga sudah cukup memuaskan,” ujarnya. Ia juga menyebut lokasi hotel yang strategis, dekat dengan Masjid Nabawi, sebagai nilai tambah.
Tahun ini, sebanyak 118 hotel untuk jemaah Indonesia ditempatkan di kawasan Markaziyah, dalam radius dekat masjid. Kebijakan itu tampaknya berbuah kepuasan nyata di lapangan.
Renah, jemaah asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, turut mengungkapkan hal senada. Bagi dia, kenyamanan hotel dan kualitas makanan selama di Madinah melampaui ekspektasi.
“Alhamdulillah pelayanan hotel luar biasa mantap. Kondisinya juga bagus dan nyaman sehingga harapannya dengan kenyamanan ini kami semua bisa sehat-sehat selama di sini,” katanya. Soal makanan, ia menegaskan semuanya terjamin dan sesuai selera jemaah Indonesia.
Apresiasi juga datang dari jajaran pejabat kementerian. Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Prof Jaenal Effendi, menyebut antusias jemaah terhadap menu Nusantara sangat luar biasa. Menurutnya, kehadiran cita rasa Indonesia di Tanah Suci memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para jemaah.
“Animonya sangat luar biasa, masyarakat jemaah haji kita itu sangat bahagia bisa merasakan cita rasa Indonesia, nusantara yang ada di sini,” ujarnya.
Di balik kepuasan itu, Ade Muhtar juga mengakui masih ada tantangan yang tak ringan. Pada hari yang sama dengan kunjungannya, Sektor 1 Madinah harus memberangkatkan 13 kelompok terbang secara bersamaan menuju Makkah — sebuah operasi besar yang membutuhkan koordinasi dan kesiapan SDM yang prima.
Proses pendorongan atau pergeseran jemaah dalam volume besar itu, kata Ade, menuntut kesiapan petugas PPIH dan tenaga porter di lapangan bekerja secara optimal. Ia mengapresiasi para petugas yang telah menjalani pelatihan intensif hampir satu bulan di Indonesia sebelum bertugas.
Evaluasi tidak akan berhenti di sini. Ade menegaskan bahwa seluruh masukan dari lapangan, termasuk dari media, akan diteruskan kepada Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah sebagai bahan perbaikan. Perhatian kini tertuju pada fase Armuzna — Arafah, Muzdalifah, dan Mina — yang menjadi puncak dan ujian sesungguhnya dari seluruh sistem pelayanan haji Indonesia tahun ini.
FAQ :
Pertanyaan: Mengapa layanan konsumsi haji Indonesia mendapat pujian dari jemaah? Karena pemerintah menggunakan bumbu dan pasta asal Indonesia serta melibatkan UMKM dalam penyediaan makanan, sehingga jemaah dapat menikmati cita rasa Nusantara selama di Tanah Suci.
Pertanyaan: Di mana hotel jemaah haji Indonesia ditempatkan di Madinah tahun ini? Sebanyak 118 hotel jemaah Indonesia berada di kawasan Markaziyah, yakni area dalam Ring Road yang berjarak dekat dengan Masjid Nabawi.
Pertanyaan: Apa tantangan terbesar yang dihadapi petugas haji di Madinah saat ini? Proses pergeseran jemaah dalam jumlah besar ke Makkah menjadi tantangan utama, termasuk kebutuhan koordinasi SDM yang tinggi saat 13 kloter harus diberangkatkan dalam waktu bersamaan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.