Summarize the post with AI
Keberanian Abu Dzar tidak berhenti pada pengakuan iman semata. Ia secara terbuka mengumandangkan kalimat tauhid di hadapan kaum Quraisy di sekitar Ka’bah. Tindakannya itu memicu kemarahan, hingga ia menjadi sasaran kekerasan massa. Tubuhnya dipukuli dan dilempari hingga tak berdaya, namun semangatnya tak surut.
Bahkan keesokan harinya, ia kembali melakukan hal serupa—menyatakan keimanan secara terbuka di tempat yang sama. Aksinya akhirnya terhenti setelah mendapat perlindungan dari salah satu tokoh Quraisy yang khawatir konflik dengan suku Ghifar akan berdampak pada jalur perdagangan.
Setelah itu, Abu Dzar kembali ke kaumnya dan mulai berdakwah. Hasilnya, banyak anggota suku Ghifar yang kemudian memeluk Islam. Tidak hanya itu, dakwahnya juga menjangkau suku Aslam yang turut mengikuti jejak keimanan tersebut. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa hidayah dapat menjangkau siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, kedua suku tersebut datang menyatakan keislaman mereka secara langsung. Nabi pun menyambut dengan penuh kebahagiaan dan mendoakan mereka—ampunan bagi Ghifar dan kedamaian bagi Aslam.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.