PUNGGAWANEWS, JERUSSALEM – Masjid Al-Aqsa, kompleks suci yang terletak di kota Yerusalem atau Al-Quds, menyimpan sejarah panjang lebih dari 6.000 tahun sebagai saksi bisu perjalanan spiritual umat manusia. Tempat yang secara harfiah berarti “tanah yang disucikan” ini telah menjadi titik pertemuan tiga agama samawi dan menyaksikan kelahiran serta kejatuhan berbagai peradaban besar dunia.
Wilayah Tertua yang Dihuni Sejak Zaman Prasejarah
Yerusalem, kota yang menaungi Masjid Al-Aqsa, dipercaya telah berpenghuni sejak lebih dari 3.000 tahun sebelum Masehi. Bangsa Kanaan, yang merupakan keturunan Ham putra Nabi Nuh, tercatat sebagai penghuni awal kawasan dataran tinggi ini.
Seiring berjalannya waktu, wilayah strategis ini menjadi rebutan berbagai kekuatan besar dunia kuno. Peradaban Mesopotamia, Babilonia, hingga kekhalifahan Islam silih berganti menguasai tanah suci ini, menjadikannya salah satu kawasan dengan catatan sejarah terpadat di muka bumi.
Kompleks Luas yang Sering Disalahpahami
Masjid Al-Aqsa menempati area seluas sekitar 144.000 meter persegi di atas Bukit Moria atau Gunung Baitul Maqdis. Kompleks berbentuk persegi panjang tak simetris ini dibatasi oleh tembok dengan panjang yang bervariasi: sisi timur 491 meter, barat 462 meter, utara 310 meter, dan selatan 281 meter.
Kesalahpahaman kerap muncul mengenai identitas fisik Masjid Al-Aqsa. Banyak yang mengira masjid ini hanya merujuk pada bangunan berkubah emas yang megah, Dome of the Rock (Kubah Batu). Padahal, seluruh kawasan dalam empat tembok pembatas itulah yang sesungguhnya disebut Masjid Al-Aqsa. Dome of the Rock yang mencolok dengan kubah emasnya memang sering dijadikan ikon visual, namun hanya merupakan satu bagian dari kompleks yang jauh lebih luas.
Dari Nabi Adam hingga Pembebasan Umar bin Khattab
Masjid Al-Aqsa tercatat sebagai masjid tertua kedua di dunia, dibangun 40 tahun setelah Masjidil Haram. Pendiriannya dimulai pada masa Nabi Adam, meski kemudian hancur total akibat banjir besar di zaman Nabi Nuh.
Nabi Ibrahim kemudian membangun kembali tempat ibadah ini. Keturunannya, termasuk Nabi Ishaq dan Nabi Yakub, meneruskan tradisi beribadah di lokasi suci tersebut. Namun ketika Nabi Yusuf menjadi bendahara di Mesir dan memindahkan keluarganya ke sana, Bani Israil meninggalkan Palestina. Pemeliharaan tempat suci kemudian dilanjutkan oleh penduduk asli Palestina yang juga mengikuti ajaran Ibrahim.
Setelah empat abad berada dalam perbudakan di Mesir, Bani Israil dibebaskan melalui kepemimpinan Nabi Musa. Namun ketika diperintahkan kembali ke Palestina, mereka menolak karena ketakutan, sehingga dijatuhi hukuman mengembara 40 tahun di Padang Tih.
Dari pengembaraan panjang itu muncul generasi baru yang lebih taat, termasuk Nabi Daud yang kemudian menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahan. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Nabi Sulaiman, yang membangun kembali seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa dengan struktur jauh lebih megah. Beliau juga mendirikan istana besar yang pembangunannyaโsebagaimana diabadikan dalam Al-Quran surah Saba ayat 12-13โdibantu oleh para jin atas izin Allah.
Kehancuran Berulang dan Penelantaran Era Romawi
Sepeninggal Nabi Sulaiman, kerajaan terpecah dan melemah. Pada 587 SM, pasukan Babilonia di bawah Raja Nebukadnezar menghancurkan Yerusalem dan meratakan Masjid Al-Aqsa. Meski sempat dibangun kembali di era Persia yang lebih toleran, pada tahun 70 Masehi kompleks ini kembali dirusak oleh tentara Romawi pimpinan Raja Titus menyusul pemberontakan Yahudi.
Memasuki abad keempat ketika Kaisar Konstantinus Agung menganut Kristen, kawasan Al-Aqsa semakin terabaikan. Tempat yang dulunya suci itu bahkan dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga setempat. Kondisi memprihatinkan ini berlangsung berabad-abad hingga datangnya Islam.
Isra Mi’raj dan Pemulihan Kehormatan
Peristiwa Isra Mi’raj mengembalikan kedudukan mulia Masjid Al-Aqsa. Rasulullah SAW melakukan salat di tempat ini dan memimpin para nabi sebelum melanjutkan perjalanan spiritual ke Sidratul Muntaha. Saat peristiwa tersebut, kawasan Al-Aqsa masih berupa daratan lapang dengan batu besarโAs-Sakhrahโyang memiliki rongga di bawahnya. Batu inilah yang menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum diperintahkan menghadap ke Masjidil Haram.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Yerusalem dibebaskan tanpa pertumpahan darah pada tahun 637 M. Setibanya di lokasi Al-Aqsa, Umar tidak menemukan bangunan masjid, melainkan tanah terbengkalai yang penuh kotoran peninggalan era Romawi. Khalifah kedua ini membersihkan tempat suci tersebut dengan tangannya sendiri dan memulai pembangunan kembali. Kehadiran pemerintahan Islam disambut baik oleh penduduk Yahudi dan Kristen karena keadilan yang ditegakkan.
Pada akhir abad ke-7, Khalifah Abdul Malik bin Marwan membangun kubah besar di atas batu As-Sakhrah yang dipercaya sebagai tempat Nabi Muhammad SAW memulai Mi’raj. Bangunan inilah yang kini dikenal sebagai Dome of the Rock.
Era Kelam Perang Salib dan Pembebasan Salahuddin
Tahun 1099 menandai salah satu periode tergelap dalam sejarah Al-Aqsa. Pasukan Salib merebut kota dan melakukan pembantaian massal. Ribuan Muslim yang mengungsi di Masjid Al-Aqsa dibantai di dalam kompleks suci. Masjid kemudian diubah fungsinya menjadi istana dan markas militer Tentara Salib.
Setelah 88 tahun, pada 1187, Salahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan kembali Al-Quds. Berbeda dengan pendahulunya, Salahuddin melakukan pembebasan tanpa balas dendam atau pembantaian. Seperti Umar bin Khattab sebelumnya, beliau membersihkan Masjid Al-Aqsa dengan tangan sendiri, bahkan menaburkan air mawar ke seluruh bagian masjid.
Sejak saat itu, umat Islam kembali menguasai Yerusalem selama kurang lebih delapan abad. Dalam periode ini, Al-Aqsa berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan besar. Ulama dari berbagai negara datang untuk mengajar, menulis, dan berdakwah. Di sisi lain, populasi Yahudi dan Kristen tetap hidup dalam perlindungan sebagai Ahli Kitab dengan hak-hak mereka terjamin.
Perubahan Drastis Era Modern
Harmoni yang berlangsung lama itu berakhir dengan munculnya gerakan Zionisme di Eropa yang bertujuan mendirikan negara Yahudi di Palestina. Gerakan ini mendapat dukungan kuat dari Inggris, terutama saat Perang Dunia I. Pada 1917, Inggris berhasil merebut Yerusalem, mengakhiri delapan abad kekuasaan Islam.
Ketika Inggris memasuki Palestina, mereka menemukan wilayah yang 90 persen dihuni masyarakat Arab. Populasi Yahudi saat itu kurang dari 56.000 jiwa atau hanya sekitar 5 persen, sebagian besar bukan Yahudi asli Palestina.
Meski di bawah pendudukan Inggris, umat Islam masih diberi kewenangan mengelola Masjid Al-Aqsa. Antara 1922-1924, dilakukan proyek restorasi pertama abad ke-20, dan hak perwalian Al-Aqsa secara resmi diserahkan kepada calon penguasa Transyordania yang kemudian menjadi Kerajaan Yordania.
Berdirinya Israel dan Pendudukan 1967
Menjelang akhir mandat Inggris pada 1947, kepemilikan tanah oleh orang Yahudi hanya sekitar 6 persen dari seluruh Palestina. Namun Majelis Umum PBB mengusulkan pembentukan negara Yahudi yang mencakup 54 persen wilayah. Setahun kemudian, pecah perang besar disertai pembantaian dan pengusiran massal. Pada 1948, negara Israel berdiri dan menguasai 78 persen tanah Palestina, termasuk 85 persen wilayah Yerusalem. Legiun Arab Yordania menguasai Tepi Barat, termasuk Kota Tua Yerusalem dan area Masjid Al-Aqsa.
Perang 1967 membawa perubahan dramatis. Israel menduduki Yerusalem Timur secara ilegal dan mengklaim penyatuan kota sebagai bagian wilayahnyaโklaim yang hingga kini ditolak masyarakat internasional. Setelah gelombang protes, Israel mengembalikan pengelolaan Masjid Al-Aqsa kepada umat Islam, namun tetap mempertahankan kontrol keamanan bersenjata di kompleks suci tersebut.
Pembakaran 1969 dan Intifada
Pada Agustus 1969, seorang ekstremis Zionis membakar bagian dalam Masjid Al-Qibli. Mimbar bersejarah peninggalan Salahuddin al-Ayyubi yang tersohor sebagai salah satu terindah di dunia hangus terbakar. Mimbar yang terdiri dari lebih dari 10.000 potong kayu yang dirangkai tanpa paku atau lem itu memerlukan pemulihan lebih dari 20 tahun karena Israel membatasi masuknya bahan restorasi.
Perlawanan rakyat Palestina terus berlangsung. Tahun 1987, tewasnya empat warga Palestina di pos pemeriksaan Gaza memicu Intifada Pertamaโgelombang perlawanan besar untuk membebaskan Palestina dan Masjid Al-Aqsa. Tahun 2000, kunjungan Ariel Sharon ke halaman Al-Aqsa dengan lebih dari 1.000 anggota polisi memicu Intifada Kedua. Sejak itu, pembatasan terhadap jamaah Palestina makin diperketat, terutama bagi laki-laki usia 18-50 tahunโkondisi yang berlangsung hingga kini.
Status Quo yang Terus Terancam
Maret 2013, Raja Abdullah I dari Yordania menandatangani kesepakatan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas yang menegaskan kembali bahwa Raja Yordania adalah penjaga resmi tempat-tempat suci di Yerusalem, termasuk Masjid Al-Aqsa.
Namun upaya mengubah status quo terus berlanjut. Tahun 2013-2014, sejumlah rancangan undang-undang diajukan di parlemen Israel untuk memberikan izin ibadah bagi Yahudi di kompleks masjid. Oktober 2014, untuk pertama kalinya sejak 1967, Israel menutup total akses ke Masjid Al-Aqsa, memicu protes besar-besaran di seluruh dunia Islam.
Hingga hari ini, otoritas Israel secara sistematis membatasi akses jamaah Palestina, melakukan penggalian di bawah pondasi masjid yang mengancam kestabilan struktur, dan membiarkan kelompok ekstremis Yahudi memasuki kawasan pada waktu tertentu.
Meski berbagai lembaga internasional termasuk Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan lebih dari 20 resolusi mengecam tindakan Israel di Yerusalem, pelanggaran terhadap hak umat Islam masih terus terjadi. Umat Islam di seluruh dunia diimbau untuk terus memberikan perhatian, dukungan, dan kunjungan ke Masjid Al-Aqsa sebagai bentuk penghormatan kepada tempat suci yang penuh berkah ini.
Catatan Redaksi: Laporan ini merangkum perjalanan historis Masjid Al-Aqsa berdasarkan berbagai sumber sejarah dan kesaksian dari berbagai periode peradaban.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.