Yang menjadi sorotan Haedar adalah karakter dari para peserta misi tersebut. Para jurnalis dan aktivis kemanusiaan yang berada di atas kapal itu tidak membawa kepentingan politik apa pun. Mereka datang membawa pena, kamera, dan niat untuk menyampaikan kebenaran dari balik blokade yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Tindakan Israel menahan mereka, menurut Haedar, adalah bentuk kesewenang-wenangan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia meminta Israel tidak menghalangi pihak-pihak yang hadir dengan membawa misi perdamaian dan kemanusiaan. Pesan itu lugas: biarkan bantuan masuk, biarkan jurnalis bekerja.

Muhammadiyah tidak berhenti pada kecaman terhadap Israel. Organisasi ini juga mendesak komunitas internasional—termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa—untuk tidak sekadar mengeluarkan pernyataan, tetapi mengambil langkah nyata. Konflik yang terus berlarut di Palestina, menurut Haedar, adalah cermin dari gagalnya komunitas global memenuhi janji yang dibuat setelah dua perang dunia.

Ada ironi besar di balik peristiwa ini. Dunia pernah berjanji, setelah Perang Dunia I dan II berakhir dengan jutaan korban jiwa, bahwa perang tidak akan lagi menjadi jalan penyelesaian konflik. Namun kenyataannya, Gaza hari ini adalah bukti betapa rapuhnya janji itu. Blokade, serangan udara, dan kini penahanan misi kemanusiaan—semuanya berlangsung di bawah sorotan dunia yang nyaris tak bergerak.