Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Pakar pertahanan dan keamanan Indonesia mengungkapkan fakta mengejutkan tentang kemampuan persenjataan rudal balistik canggih milik Iran yang dinilai jauh melampaui sistem pertahanan udara modern.

Marsekal Muda Purnawirawan TNI AU Agung Sasongko Jati, yang merupakan lulusan US Air War College, memaparkan analisis mendalam tentang rudal Sejjil dalam sebuah wawancara khusus. Menurutnya, senjata strategis Iran ini memiliki spesifikasi teknis yang luar biasa mengancam bagi pertahanan lawan.

Spesifikasi Teknis Mengejutkan

Rudal Sejjil dirancang dengan kemampuan membawa hulu ledak (warhead) dengan bobot mencapai 700 hingga 1.000 kilogram. Untuk jangkauan maksimal, rudal ini dioptimalkan pada muatan 700 kg dengan radius serangan mencapai lebih dari 2.000 kilometer, cukup untuk menjangkau sebagian wilayah Eropa.

“Dari posisi peluncuran di Teheran, rudal ini hanya membutuhkan waktu tujuh menit untuk mencapai target di Israel. Kecepatan responsnya yang sangat singkat ini menjadi keunggulan taktis yang signifikan,” ungkap Agung.

Dengan bobot total mencapai 22 ton, rudal ini menggunakan sistem peluncuran mobile yang membuatnya fleksibel dan sulit dilacak. Sistem bahan bakar padat dua tahap (two-stage solid fuel) memungkinkan peluncuran langsung tanpa persiapan panjang, berbeda dengan rudal berbahan bakar cair yang memerlukan waktu persiapan 10-15 menit.

Teknologi Manuver Canggih

Keunikan utama rudal Sejjil terletak pada kemampuannya yang tidak sepenuhnya bersifat balistik konvensional. Sistem propulsi dua tahap memungkinkan rudal melakukan manuver kompleks selama penerbangan.

“Tahap pertama membawa rudal meluncur ke ketinggian maksimal. Setelah mencapai puncak lintasan atau apex, motor tahap kedua menyala untuk fase penurunan. Pada tahap ini, kecepatan rudal memasuki kategori hipersonik dengan kemampuan pengarahan yang presisi,” jelas pengamat militer tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan, rudal tetap dapat dikendalikan bahkan setelah diluncurkan. Integrasi dengan sistem satelit navigasi BeiDou milik Tiongkok memberikan kemampuan ganda: navigasi presisi dan komunikasi real-time dengan pusat komando.

Akurasi Mematikan

Tingkat akurasi rudal Sejjil mencapai CEP (Circular Error Probable) hanya 10 meter. Dengan hulu ledak seberat 700 kilogram, jarak kesalahan 10 meter praktis tidak berpengaruh pada daya hancur terhadap target.

“Pada fase terminal atau tahap akhir menuju sasaran, rudal masih bisa melakukan manuver penghindaran terhadap sistem pertahanan udara seperti Arrow 3 atau Iron Dome milik Israel. Kemampuan berkelit ini membuat probabilitas rudal mencapai target meningkat hingga 90 persen,” papar Agung.

Kemampuan mengubah arah saat mendekati sasaran juga memberikan fleksibilitas taktis. Rudal yang awalnya tampak menuju satu lokasi dapat dialihkan ke target berbeda dalam radius ratusan kilometer, menciptakan kebingungan bagi sistem intersepsi lawan.

Tantangan Intersepsi

Sistem pertahanan rudal konvensional bekerja dengan menempatkan rudal pencegat pada lintasan yang diperkirakan, kemudian meledakkannya untuk menciptakan zona hancur seluas 100-500 meter. Rudal yang melintas diharapkan menabrak serpihan atau gelombang ledakan.

“Perubahan sudut bahkan hanya satu derajat pada kecepatan hipersonik sudah cukup menggeser posisi rudal sejauh 30 kilometer dari proyeksi semula. Ini membuat sistem intersepsi sangat sulit mengantisipasi posisi akurat rudal Sejjil,” imbuh Agung.

Ia menegaskan tidak ada sistem pertahanan udara konvensional yang mampu secara konsisten mencegat rudal dengan karakteristik seperti ini.

Perbandingan Global

Ketika ditanya tentang kepemilikan teknologi serupa oleh negara lain, Agung menyebutkan bahwa Amerika Serikat masih dalam tahap eksperimen dengan berbagai kendala teknis dan biaya yang sangat tinggi, bahkan beberapa proyek mengalami kegagalan.

“Negara yang secara pasti memiliki teknologi rudal hipersonik manuver adalah Rusia. Ada indikasi kuat bahwa Iran mendapatkan sebagian transfer teknologi dari Moskow untuk pengembangan rudal Sejjil,” ungkapnya.

Kontrol Strategis Selat Hormuz

Selain kekuatan rudal jarak jauh, Iran juga memiliki keunggulan taktis di perairan strategis. Meski sebagian armada lautnya telah mengalami kerusakan atau ditarik ke tempat persembunyian, Iran mengandalkan baterai rudal anti-kapal yang tersebar di sepanjang garis pantai Selat Hormuz sepanjang hampir 100 kilometer.

“Satu tembakan rudal anti-kapal jarak pendek yang mengenai lambung kapal, bahkan dengan lubang sebesar bola basket di dekat garis air, sudah cukup melumpuhkan kapal perang modern,” jelas Agung.

Iran dengan cerdik mengumumkan bahwa hanya kapal-kapal sekutu Amerika Serikat yang dilarang melintas, sementara kapal negara lain bebas berlayar. Kebijakan ini mendorong banyak negara, termasuk negara-negara Eropa, untuk melakukan komunikasi diplomatik langsung dengan Tehran.

“Strategi ini membuktikan Iran tidak hanya mengandalkan hard power militer, tetapi juga mengoptimalkan soft power melalui diplomasi dan kontrol informasi. Sebaliknya, arogansi Amerika yang terlalu bergantung pada kekuatan militer tanpa memahami strategi komprehensif justru menempatkan mereka dalam posisi tidak menguntungkan,” tutup Agung.

Pengungkapan kemampuan rudal Sejjil ini memberikan perspektif baru tentang keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah dan dampaknya terhadap dinamika geopolitik global.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________