Afdhal menyampaikan bahwa kualitas generasi muda hari ini akan sangat menentukan wajah Banda Aceh di masa yang akan datang. Oleh karena itu, ia mendorong kolaborasi yang erat antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan Gerakan Pramuka dalam memperkuat pembinaan karakter sejak dini.

“Pembangunan Banda Aceh kita mulai dari manusia,” tegasnya. Menurutnya, anggota Pramuka idealnya mampu menjadi teladan di sekolah, di lingkungan keluarga, bahkan di tingkat gampong atau desa, sembari turut menggerakkan aksi-aksi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Pemerintah Kota Banda Aceh secara nyata mewujudkan komitmen tersebut dengan mengalokasikan sumber daya dan perhatian penuh pada proses persiapan kontingen. Pemusatan latihan dirancang untuk memastikan para peserta benar-benar siap, baik secara fisik maupun mental, sebelum tiba di panggung nasional.

Jambore Nasional XII 2026 sendiri merupakan perhelatan akbar Gerakan Pramuka yang diikuti ribuan peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan, pertukaran budaya, dan ajang pembuktian kemampuan antar kontingen dari berbagai daerah. Bagi peserta dari Banda Aceh, ini adalah kesempatan emas untuk membawa nama kota mereka ke tingkat nasional.

Kontingen Banda Aceh diharapkan tidak hanya tampil dalam hal keterampilan teknis kepramukaan, tetapi juga memancarkan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas kuat masyarakat Aceh — kedisiplinan, kejujuran, dan semangat gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari budaya setempat.



Follow Widget