Namun di tengah optimisme itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian serius. Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sepakat untuk memperketat pengawasan dan memperkuat intervensi di pasar valuta asing. Rupiah dinilai memiliki potensi besar untuk kembali menguat, asalkan sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus dijaga.

Sebagai bentuk konkret dari sinergi itu, pemerintah dan Bank Indonesia menyepakati tujuh langkah strategis. Langkah-langkah tersebut mencakup penguatan intervensi pasar valas, koordinasi pengelolaan Surat Berharga Negara, penjagaan likuiditas sistem keuangan, hingga penyesuaian batas pembelian dolar di pasar domestik. Semuanya diarahkan untuk meredam gejolak eksternal yang bisa mengguncang stabilitas keuangan nasional.

Tak berhenti di situ, pemerintah juga mengambil langkah diversifikasi pembiayaan dengan menerbitkan Panda Bonds di Tiongkok. Instrumen obligasi dalam denominasi yuan ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS sekaligus menarik pendanaan dengan bunga yang lebih kompetitif. Langkah ini mencerminkan strategi geopolitik ekonomi yang lebih luwes di tengah dinamika hubungan dagang global yang terus berubah.

Untuk menjaga agar momentum pertumbuhan tidak melambat di kuartal kedua, pemerintah juga menyiapkan paket stimulus tambahan yang ditujukan untuk mendorong aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Stimulus ini diharapkan menjadi penyangga agar roda perekonomian terus berputar, terutama di sektor-sektor yang paling terdampak tekanan global.