“Hari ini harganya sekitar Rp15.800-an. Sebelumnya Rp15.900-an, berarti malah bagus,” ucap Budi.
Namun ada catatan penting yang tidak bisa diabaikan. Sejumlah daerah, terutama Papua, masih mencatat harga yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Penyebabnya bukan soal pasokan, melainkan tantangan distribusi yang secara geografis memang lebih kompleks di wilayah timur Indonesia.
Pemerintah tidak tinggal diam. Budi menyebut pihaknya telah meminta Bulog untuk memperkuat distribusi MinyaKita ke Papua, agar kesenjangan harga antardaerah bisa dipersempit.
Situasi ini mencerminkan dua sisi masalah yang harus ditangani bersamaan: menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, sekaligus memastikan ketersediaan produk merata hingga ke pelosok negeri. Sementara itu, kajian soal HET masih berjalan, dan publik belum mendapat kepastian soal angka maupun waktu pengumuman.
Yang pasti, jika HET akhirnya dinaikkan, pemerintah perlu memastikan penyesuaian itu tidak langsung terasa berat di kantong masyarakat—terutama kelompok berpenghasilan rendah yang selama ini mengandalkan MinyaKita sebagai pilihan minyak goreng terjangkau.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.