Meski logika itu masuk akal, Budi menolak menarik garis langsung antara B50 dan rencana penyesuaian HET MinyaKita. Ia menekankan bahwa faktor utama yang mendorong kajian ini adalah kondisi ekonomi yang terus berubah, sementara HET MinyaKita sendiri tidak pernah direvisi sejak Agustus 2024.

“Harga HET MinyaKita itu sudah dari 2024, sudah lama. Semua kan pasti nilai ekonominya berubah,” ujar Budi.

Artinya, hampir sembilan bulan berlalu tanpa ada penyesuaian, sementara harga bahan baku terus bergerak naik. Pemerintah kini tengah mengkaji ulang angka HET itu bersama kementerian dan lembaga terkait, meski Budi belum bisa memastikan kapan keputusan resmi akan diumumkan.

“Lagi kita bahas sekarang,” katanya singkat.

Di tengah polemik soal wacana kenaikan itu, Budi justru memberikan kabar yang sedikit melegakan. Pasokan MinyaKita di pasar saat ini dalam kondisi aman, dan harga di lapangan bahkan menunjukkan tren penurunan tipis. Dari pantauan terbaru, harga minyak goreng bersubsidi itu berada di kisaran Rp15.800 per liter, turun dari posisi sebelumnya di sekitar Rp15.900 per liter.