Di luar penempatan pos siaga, PPIH juga menekankan pentingnya kesiapan jamaah itu sendiri. Jamaah diminta untuk senantiasa memperhatikan arahan dari ketua rombongan dan ketua regu sebelum dan selama bergerak di dalam kawasan Masjidil Haram. Koordinasi antara jamaah dan pemimpin rombongan menjadi garis pertahanan pertama sebelum bantuan petugas dibutuhkan.

Selain itu, Kartu Nusuk wajib selalu dibawa jamaah ke mana pun mereka pergi. Kartu ini bukan hanya akses masuk ke area ibadah, tetapi juga menjadi identitas penting yang memudahkan petugas dalam membantu jamaah yang tersesat untuk kembali ke kelompoknya. Kartu yang tertinggal di kamar hotel bisa menjadi hambatan serius di lapangan.

Kondisi fisik jamaah juga menjadi perhatian serius PPIH musim ini. Jamaah diimbau untuk tidak memaksakan diri beribadah di luar batas kemampuan tubuhnya. Cuaca Mekah yang panas menyengat, terutama di siang hari, menjadi faktor risiko tersendiri. Membawa payung, masker, dan penutup kepala bukan sekadar anjuran formalitas, melainkan kebutuhan nyata yang dapat mencegah jamaah dari kelelahan ekstrem yang berujung pada disorientasi.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, menegaskan bahwa seluruh persiapan ini mencerminkan komitmen pemerintah Indonesia dalam memberikan layanan terbaik bagi jamaahnya selama berada di Tanah Suci. Ia menyebutkan bahwa tujuan akhir dari semua upaya ini adalah agar jamaah bisa beribadah dengan tenang, fokus, dan tanpa kekhawatiran akan keselamatan diri sendiri.