Summarize the post with AI

Selain infrastruktur, Dedi menekankan perubahan budaya sosial masyarakat. Ia mengkritik gaya hidup konsumtif yang tidak sejalan dengan kondisi ekonomi, termasuk tradisi pesta pernikahan mewah yang kerap membebani keuangan keluarga. Sebagai solusi, ia mendorong optimalisasi Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai tempat pernikahan yang layak dan representatif, sehingga biaya dapat dialihkan untuk kebutuhan jangka panjang seperti perumahan.

Di sektor pendidikan, Dedi mengingatkan potensi krisis tenaga pengajar akibat minimnya rekrutmen guru baru. Ia meminta pemerintah pusat dan daerah segera mengantisipasi kekurangan tersebut, sembari tetap memperluas akses pendidikan melalui pembangunan ruang kelas dan sekolah baru.

Isu kesehatan juga menjadi perhatian, khususnya terkait sanitasi lingkungan. Menurutnya, penanganan penyakit seperti tuberkulosis tidak cukup hanya dengan pengobatan, tetapi harus disertai perbaikan kondisi lingkungan tempat tinggal.

Lebih jauh, Dedi mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan antara modernisasi dan kearifan lokal. Ia menilai ekonomi tradisional—seperti pasar rakyat—harus tetap dipertahankan sebagai penopang ketahanan masyarakat, di tengah perkembangan ekonomi digital.



Follow Widget