Summarize the post with AI

JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Gedung Putih mendadak menggelar rapat darurat tim keamanan nasional pada Selasa sore waktu Washington, ketika Presiden Donald Trump dihadapkan pada pilihan paling krusial: menempuh jalur militer atau mempertahankan diplomasi terhadap Iran di tengah berakhirnya tenggat gencatan senjata.

Ketegangan semakin terasa ketika pesawat Air Force Two milik Wakil Presiden JD Vance telah bersiap di landasan, siap terbang ke Pakistan untuk pertemuan diplomatik yang sudah direncanakan. Namun misi itu menggantung di udara karena Teheran sama sekali tidak memberikan respons atas poin-poin kesepakatan yang telah dikirimkan Washington sebelumnya, sebagaimana dilaporkan CNN International, Rabu (22/4/2026).

Kebungkaman total Iran itu memunculkan tanda tanya besar di kalangan pejabat senior Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe, yang terus memantau situasi tanpa mendapat sinyal apa pun dari pihak Iran.

Para ajudan terdekat Trump meyakini diam Teheran bukan tanpa sebab. Berdasarkan laporan yang masuk dari mediator Pakistan, pemerintah Iran tengah didera perpecahan internal yang cukup serius, khususnya soal posisi mereka dalam isu pengayaan uranium yang menjadi titik paling sensitif dalam perundingan. Kondisi itu diperparah oleh sikap Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang memilih tidak menampakkan diri, sehingga para pejabat Iran dibiarkan meraba-raba arah kebijakan tanpa instruksi yang jelas.

Di tengah kebuntuan itu, Trump akhirnya memilih opsi yang lebih lunak: memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan tanpa menetapkan tanggal kadaluarsa yang pasti. Langkah ini dimaksudkan memberi ruang bagi Teheran untuk merapatkan barisan internal di bawah mandat Khamenei. Meski demikian, sejumlah penasihat presiden memperingatkan bahwa kelonggaran tersebut berpotensi dimanfaatkan Iran untuk mengulur waktu sambil memulihkan kekuatan militer mereka.

Melalui platform Truth Social, Trump menyebut pemerintahan Iran saat ini dalam kondisi yang sangat retak. Ia mengisyaratkan masih mendambakan penyelesaian lewat diplomasi, enggan membuka kembali babak konflik yang ia klaim telah dimenangkan Amerika.

Namun jalan menuju meja perundingan tetap penuh hambatan. Iran bersikukuh menuntut pencabutan blokade di Selat Hormuz sebagai syarat mutlak sebelum pembicaraan berlanjut. Trump menolak mentah-mentah. “Kami tidak akan membuka selat itu sampai kami memiliki kesepakatan final,” tegasnya dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa pagi.

Teheran pun merespons perpanjangan gencatan senjata itu dengan nada yang jauh dari bersahabat. Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Ghalibaf, menyatakan bahwa perpanjangan tersebut tidak punya makna selama blokade ekonomi masih berjalan, dan bahwa pengepungan yang terus berlangsung sama saja dengan serangan yang menuntut balasan militer.

Di sisi lain, Trump tetap tampil dengan keyakinan penuh bahwa ia mampu merampungkan kesepakatan yang jauh lebih menguntungkan dibanding era sebelumnya. Ia menggambarkan posisi Iran sebagai pihak yang tidak lagi memiliki banyak pilihan setelah angkatan laut, angkatan udara, dan kepemimpinan tertinggi mereka dilumpuhkan, meski ia pun mengakui bahwa kehilangan figur pemimpin justru memperumit jalannya negosiasi.



Follow Widget