MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Sebuah gerakan sederhana di kelurahan pesisir Panampu, Makassar, kini mencuri perhatian. Ibu-ibu rumah tangga yang biasanya hanya menjadi penonton pembangunan, kini tampil sebagai aktor utama—mengubah limbah plastik tak bernilai menjadi produk fesyen ramah lingkungan yang sudah menembus pasar Jakarta hingga Bali.
Inilah wajah nyata dari Program Komunitas Berdaya Nusantara yang digagas Nusantara Infrastructure bersama RAPPO Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Lurah Panampu, Kecamatan Tallo, Rabu, 13 Mei 2026, dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin—yang akrab disapa Appi.
“Hari ini saya merasa bangga dan optimis. Kehadiran Komunitas Berdaya Nusantara yang menggandeng RAPPO Indonesia bukan sekadar acara seremonial biasa,” ujar Appi dalam sambutannya. Baginya, program ini adalah perwujudan konkret dari visi besar: Makassar yang unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Bukan sekadar retorika. Di balik panggung acara itu, tersimpan sebuah ekosistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang bekerja diam-diam namun berdampak besar. Semuanya dimulai dari hal paling mendasar: pemilahan sampah dari rumah.
Sampah terpilah dari warga kemudian disetor ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara. Di sinilah proses seleksi berlangsung—plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE dipisahkan untuk diserahkan kepada tim RAPPO Indonesia guna diolah lebih lanjut. Dari tangan perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia, plastik-plastik itu dicuci, dicacah, lalu diproses menjadi produk daur ulang yang siap jual.
Produk hasil olahan tersebut kemudian didistribusikan kepada kelompok masyarakat sebagai reseller, membuka lapangan ekonomi baru di lingkungan yang sebelumnya terpinggirkan dari arus ekonomi kota.
Apa yang terjadi di Panampu bukan hanya soal daur ulang. Ini adalah model ekonomi sirkular yang hidup dan bergerak dari bawah—mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai. Dan Appi ingin memastikan model ini terus tumbuh dan meluas.
Namun di balik optimisme itu, Makassar masih menghadapi tantangan besar. Kota ini menghasilkan sekitar 800 ton sampah setiap hari. Kapasitas pengangkutan baru mencapai sekitar 67 persen, artinya sekitar 30 persen sampah belum tertangani secara optimal.
Lebih jauh, sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan metode open dumping menjadi pekerjaan rumah mendesak. Tahun ini, sistem tersebut ditargetkan dihentikan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Kota Makassar sedang berproses beralih ke sistem sanitary landfill.
“Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan,” kata Appi. Pernyataan ini mencerminkan ambisi besar: mengubah cara kota ini memandang dan mengelola sampahnya dari hulu ke hilir.
Untuk itu, Pemkot Makassar tengah menyiapkan proyek ambisius: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau Waste to Energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek ini dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt.
“Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal,” tegasnya. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas masyarakat ia sebut sebagai kunci dari seluruh skema ini.
Appi juga mendorong pembangunan TPS 3R—Reduce, Reuse, Recycle—di wilayah Panampu sebagai penopang pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar kawasan padat seperti Tallo memiliki fasilitas pengolahan yang dekat dan mudah diakses warga.
Tak hanya plastik, Makassar juga menggarap sisi organik dari masalah sampahnya. Pemerintah kota mengembangkan konsep pertanian lahan sempit berbasis kompos di tingkat kelurahan hingga rukun warga. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah teba modern—metode pengolahan sampah organik melalui sistem lubang kompos yang bisa dipanen dalam lima hingga enam bulan.
“Pupuk kompos ini kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk bertani di lahan-lahan sempit, sehingga setiap sudut kota yang tidak terpakai bisa menjadi produktif,” ungkap Appi.
Program budidaya maggot turut dikembangkan sebagai solusi alternatif. Satu kilogram maggot diklaim mampu mengurai hingga lima kilogram sampah organik, sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai ekonomis tersendiri.
Sementara itu, kontribusi Nusantara Infrastructure tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Perusahaan ini juga terlibat dalam program penurunan angka stunting di Makassar—sebuah isu kesehatan yang masih menjadi tantangan serius di banyak kota besar Indonesia. Appi menyebutkan bahwa angka stunting di Makassar terus mengalami penurunan berkat kolaborasi yang intens antara pemerintah dan sektor swasta.
Makassar, dengan segala kompleksitasnya sebagai kota metropolitan di kawasan timur Indonesia, kini memilih jalur yang berbeda dalam membenahi persoalan lingkungan dan sosialnya. Bukan dengan menunggu dana besar dari pusat, melainkan dengan merajut kolaborasi dari akar rumput.
Dari tangan para ibu di pesisir Tallo, sampah plastik yang selama ini hanya jadi beban lingkungan kini berubah menjadi produk fesyen yang diminati di tiga kota besar sekaligus. Sebuah bukti bahwa ketika masyarakat diberdayakan dengan benar, mereka bukan hanya mampu menyelesaikan masalah—mereka bisa menciptakan peluang.
FAQ
Apa itu Program Komunitas Berdaya Nusantara yang diluncurkan di Makassar? Program ini adalah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang digagas Nusantara Infrastructure bersama RAPPO Indonesia, berfokus pada pengelolaan sampah plastik berbasis komunitas dan pemberdayaan ekonomi perempuan. Sampah plastik terpilah dari warga diolah menjadi produk fesyen ramah lingkungan yang kemudian dipasarkan hingga ke Jakarta dan Bali.
Seberapa besar masalah sampah yang dihadapi Kota Makassar saat ini? Makassar menghasilkan sekitar 800 ton sampah per hari, namun kapasitas pengangkutan baru mencapai sekitar 67 persen. Sistem TPA yang masih menggunakan open dumping juga tengah dalam proses konversi menjadi sanitary landfill sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.
Apa itu proyek Waste to Energy yang disiapkan Pemerintah Kota Makassar? Waste to Energy atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) adalah proyek strategis senilai sekitar Rp3 triliun yang dirancang untuk mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20–25 megawatt, sebagai solusi jangka panjang pengelolaan sampah Kota Makassar.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.