Lebih jauh, sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan metode open dumping menjadi pekerjaan rumah mendesak. Tahun ini, sistem tersebut ditargetkan dihentikan sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Kota Makassar sedang berproses beralih ke sistem sanitary landfill.
“Ke depan, sampah yang masuk ke TPA bukan lagi sampah rumah tangga secara langsung, melainkan residu dari hasil pengolahan,” kata Appi. Pernyataan ini mencerminkan ambisi besar: mengubah cara kota ini memandang dan mengelola sampahnya dari hulu ke hilir.
Untuk itu, Pemkot Makassar tengah menyiapkan proyek ambisius: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) atau Waste to Energy dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Proyek ini dirancang mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari sekaligus menghasilkan listrik sebesar 20 hingga 25 megawatt.
“Ini menjadi sesuatu yang harus kita respons bersama. Tanpa kesiapan pemerintah kota, investasi ini tidak akan maksimal,” tegasnya. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas masyarakat ia sebut sebagai kunci dari seluruh skema ini.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.