Sampah terpilah dari warga kemudian disetor ke Bank Sampah Kampung Bersih Nusantara. Di sinilah proses seleksi berlangsung—plastik bernilai seperti HDPE, PP, dan LDPE dipisahkan untuk diserahkan kepada tim RAPPO Indonesia guna diolah lebih lanjut. Dari tangan perempuan pesisir di Desa Nelayan Untia, plastik-plastik itu dicuci, dicacah, lalu diproses menjadi produk daur ulang yang siap jual.
Produk hasil olahan tersebut kemudian didistribusikan kepada kelompok masyarakat sebagai reseller, membuka lapangan ekonomi baru di lingkungan yang sebelumnya terpinggirkan dari arus ekonomi kota.
Apa yang terjadi di Panampu bukan hanya soal daur ulang. Ini adalah model ekonomi sirkular yang hidup dan bergerak dari bawah—mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai. Dan Appi ingin memastikan model ini terus tumbuh dan meluas.
Namun di balik optimisme itu, Makassar masih menghadapi tantangan besar. Kota ini menghasilkan sekitar 800 ton sampah setiap hari. Kapasitas pengangkutan baru mencapai sekitar 67 persen, artinya sekitar 30 persen sampah belum tertangani secara optimal.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.