Prabowo meninjau langsung sejumlah fasilitas yang telah beroperasi di kawasan itu. Ia melihat dari dekat pelabuhan shelter sortir, tempat ikan dipilah sebelum masuk proses distribusi, serta fasilitas pengepakan yang dirancang memenuhi standar penanganan hasil laut.
Kampung Nelayan Merah Putih juga dilengkapi infrastruktur yang cukup lengkap: kantor pengelola, bengkel nelayan, balai pertemuan, kios perbekalan, shelter cool box, pabrik es, gudang beku ikan, docking perahu, shelter pendaratan ikan, hingga tempat perbaikan jaring. Fasilitas-fasilitas itu dirancang untuk menutup celah kelemahan yang selama ini membuat nelayan sulit bersaing.
Persoalan nelayan di Indonesia memang bukan hal baru. Banyak dari mereka yang melaut dengan penuh risiko, namun pulang membawa hasil yang nilainya terus tergerus di rantai distribusi panjang. Tidak ada tempat penyimpanan memadai berarti ikan cepat rusak. Tidak ada akses pasar langsung berarti harga ditentukan pihak lain.
Program Kampung Nelayan Merah Putih hadir untuk memotong rantai itu. Dengan infrastruktur yang terintegrasi dalam satu kawasan, nelayan bisa mengelola hasil tangkapannya secara mandiri—dari pendaratan ikan hingga siap jual—tanpa harus bergantung pada pihak ketiga yang kerap merugikan mereka.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.