Bapanas mengakui ada sejumlah komoditas yang sifatnya perishable atau mudah rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, yang tidak bisa disimpan dalam cadangan formal jangka panjang. Namun untuk komoditas ini, Bapanas tidak khawatir. Pasalnya, produksi dalam negeri secara reguler masih mencatat surplus yang cukup signifikan terhadap angka kebutuhan konsumsi.

Data Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas menunjukkan gambaran yang meyakinkan. Cabai besar diperkirakan diproduksi sebanyak 1,51 juta ton sepanjang tahun ini, jauh melampaui kebutuhan konsumsi yang hanya 929,27 ribu ton. Cabai rawit pun demikian, dengan proyeksi produksi 1,5 juta ton berbanding kebutuhan 913,61 ribu ton.

Surplus serupa juga tercatat pada bawang merah, dengan produksi tahunan diproyeksikan mencapai 1,32 juta ton sementara kebutuhan konsumsinya sebesar 1,25 juta ton. Selisih yang tidak terlampau besar ini tetap dinilai aman karena distribusi yang berjalan sepanjang tahun.

Telur ayam ras menjadi salah satu komoditas dengan volume terbesar sekaligus surplus paling meyakinkan. Produksi nasional diproyeksikan menyentuh 6,98 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi hanya 6,47 juta ton. Daging ayam ras pun mengikuti pola serupa: produksi 4,89 juta ton dengan kebutuhan 4,02 juta ton.

Kondisi ini membuat Bapanas optimis bahwa meski musim kering memasuki fase puncaknya pada Agustus dan September, gejolak harga pangan dapat diredam. Pemerintah telah menempatkan mekanisme intervensi pasar melalui program SPHP sebagai garis pertahanan utama apabila harga di tingkat konsumen mulai bergolak.



Follow Widget