Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, BANDUNG – Dalam sebuah acara yang dihadiri oleh jajaran pimpinan IPDN, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Bupati Sumedang, serta berbagai tokoh agama, militer, dan masyarakat, mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, menyampaikan pidato yang sangat emosional dan menggugah kesadaran. Dengan nada tegas, ia melontarkan sindiran keras kepada pihak-pihak yang mengaku nasionalis namun membiarkan perusakan alam terjadi secara masif di Indonesia.

Emosi Dedi Mulyadi Sindir Jika Ngaku Nasionalis Tapi Biarkan Hutan Dibabat: Anda Pembohong!|Liputan6

Mengawali pidatonya, Dedi Mulyadi menyampaikan terima kasih kepada para hadirin, termasuk tokoh-tokoh penting seperti K.H. Abun Bunyamin, dosen yang pernah menjadi tim kebangsaannya, hingga guru agama SMA-nya. Ia lantas menyinggung soal aksi sosialnya kepada para pengungsi di Sumatera. Di sana, ia memilih untuk membawa uang tunai, bukan makanan, agar perputaran ekonomi lokal dapat hidup kembali karena toko dan warung sudah mulai buka kembali.

Dari situ, Dedi Mulyadi membawa hadirin pada perenungan mendalam mengenai prinsip hidup dan hubungannya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta hukum Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa prinsipnya adalah berpegangan pada “kitab” dalam pikiran dan perasaannya, yakni bisikan hati yang terjaga dari puasa. Dedi menyoroti fenomena ketaatan ritual masyarakat Indonesia—seperti antrean panjang untuk umrah dan haji—tetapi ia merasa ada dua hal yang hilang dan tercerabut dari tradisi agama.

“Ritualitas kita sudah sangat taat… Tetapi ada dua hal yang hilang tercerabut dalam tradisi agama kita adalah kita mencintai Tuhan tapi lupa terhadap hukum Tuhan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hukum Tuhan yang paling sejati, yang tidak perlu ditafsirkan atau melahirkan mazhab, adalah hukum alam. Hukum matahari, tanah, air, dan udara tidak akan pernah berubah. Menurut Dedi, mencintai Allah berarti tunduk dan patuh pada kausalitas, pada sebab akibat, atau hukum universal alam.

Melanjutkan kritiknya, Dedi Mulyadi melontarkan gugatan seorang nasionalis sejati. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyatakan bahwa seorang nasionalis sejati akan menangis ketika hutannya dibabat, hulu-hulu sungainya diuruk, dan mata airnya makin mengering. Ia secara gamblang menyatakan bahwa pengakuan sebagai pencinta NKRI dan nasionalis akan runtuh jika membiarkan bencana ekologis ini terjadi.

“Kalau kita mengaku mencintai NKRI, mengaku menjadi nasionalis, membiarkan hutan dibabat, membiarkan sungai diuruk, membiarkan laut diuruk, dan membiarkan mata air mengering. Saya katakan, Anda pembohong dan Anda tidak mencintai Indonesia,” tegasnya, menyindir keras para pihak yang mengklaim diri sebagai patriot namun abai pada lingkungan.

Untuk memperkuat kritiknya, Dedi Mulyadi menyoroti perbandingan ironis antara era penjajahan Belanda dengan masa kemerdekaan Indonesia. Ia menyebut, setelah 350 tahun dijajah Belanda, gunung-gunung masih utuh, samudra terbentang luas, sungai jernih, dan Belanda meninggalkan infrastruktur yang kokoh seperti bangunan indah dan jembatan kereta api yang kuat. Sebaliknya, setelah 80 tahun merdeka, kondisi yang terjadi adalah: gunung gundul, sungai keruh, hutang menggunung, dan bangunan serta jalanan mudah rusak.

Mewakili keresahan generasi muda yang mulai menggugat di media sosial, Dedi Mulyadi kemudian melontarkan pertanyaan keras: “Pertanyaannya adalah siapa yang penjajah itu?”

Ia menutup pidatonya dengan menyoroti kebiasaan buruk bangsa Indonesia. Kebiasaan ini adalah ribut melakukan perbaikan hanya saat terjadi bencana, namun kembali lupa dan berbuat kerusakan saat musim kemarau tiba. Menurut Dedi Mulyadi, secara hitungan ekonomi, keuntungan dari pembabatan hutan dan pengambilan sumber daya alam tidak sebanding sama sekali dengan kerugian puluhan hingga ratusan triliun rupiah yang harus dikerahkan saat bencana alam melanda. Indonesia, katanya, sedang merugi karena ulah sendiri.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________