KHARG, PUNGGAWANEWS – Aktivitas bongkar muat minyak di Pulau Kharg, jantung ekspor energi Iran, justru tampak semakin sibuk di tengah kepungan Angkatan Laut Amerika Serikat. Citra satelit Sentinel-1 milik Uni Eropa yang diambil Senin pekan ini merekam pemandangan yang kontras: belasan kapal tanker raksasa — sebagian besar berkategori Very Large Crude Carrier (VLCC) dengan kapasitas angkut sekitar dua juta barel per unit — berjejer di sisi timur pulau. Dua hari sebelumnya, dermaga yang sama nyaris lengang.
Jumlah kapal yang tertambat melonjak hingga tiga belas unit, sekitar dua kali lipat dibandingkan kondisi sebelum blokade laut AS resmi diberlakukan pada 13 April lalu. Para analis menduga kapal-kapal itu tengah diisi penuh minyak mentah milik Iran sendiri — bukan sebagai persiapan ekspor yang akan segera berlayar, melainkan sebagai strategi memperpanjang napas di tengah tekanan yang terus mengencang.
Washington mengklaim operasi maritimnya di Laut Oman telah berhasil memaksa sekitar tiga puluh kapal Iran berbalik arah, sehingga minyak mentah Republik Islam itu gagal mencapai para pembelinya. Angkatan Laut AS dalam sepekan terakhir mencegat setidaknya dua supertanker di Teluk Oman dan Laut Arab, memaksa mereka putar haluan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran. Penumpukan kapal terlihat di perairan sekitar Chabahar, pelabuhan terluar Iran yang berbatasan langsung dengan Pakistan.
Jangkauan blokade bahkan melampaui Teluk Oman. Pasukan AS menaiki kapal tanker Majestic X di Samudra Hindia, beberapa hari setelah kapal Tifani dicegat ketika tengah berlayar antara Sri Lanka dan Selat Malaka. Kedua kapal itu terkena sanksi AS, dan penyitaannya menjadi sinyal bahwa operasi penghadangan ini berskala jauh lebih luas dari yang semula diprakirakan.





















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.